Sehari, Kuningan Hasilkan 400 Ton Sampah

sampah-di-kuningan
BAHAS SAMPAH: Sekda Dian Rachmat Yanuar memimpin rapat membahas permasalahan penanganan sampah bersama kepala DLH dan ketua TP PKK, Rabu (12/6). Foto: Agus Panther/RADAR KUNINGAN

KUNINGAN – Persoalan sampah di Kabupaten Kuningan saat ini makin serius untuk segera ditangani. Pasalnya, dalam sehari sampah yang dihasilkan warga mencapai 400 ton. Baik limbah rumah tangga maupun yang dihasilkan dunia usaha. Sementara pengangkutan sampah ke TPSA Ciniru terkendala armada yang jumlahnya tidak seimbang.

Sampah-sampah tersebut masih didominasi plastik yang sangat sulit untuk diurai. Dibutuhkan waktu tidak sedikit untuk mengurai sampah plastik yang jumlahnya mencapai ratusan ton tersebut.

“Produksi sampah di Kuningan itu rata-rata per hari sekitar 400 ton. Sedangkan yang bisa tercover oleh Dinas Lingkungan Hidup itu hanya 70 ton sampah. Bayangkan sebanyak 330 ton sampah di Kuningan tidak terurai. Ini menjadi perhatian dari pemerintah daerah dalam mengatasinya,” tegas Sekda Dian Rachmat Yanuar saat ditemui awak media, Rabu (12/6).

Sekda Dian mengungkapkan, kondisi persampahan yang belum tertangani secara optimal itu menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Karena itu, pemerintah daerah meminta agar semua pihak terlibat dalam penanganan  limbah sampah. Sebab persoalan sampah ini dapat diatasi, jika semua warga bersama-sama peduli terhadap pengelolaan sampah.

“Hal ini perlu ada keterlibatan lintas sektoral dalam penanganan sampah. Penanganan sampah di Kuningan menjadi tanggung jawab semua elemen baik pemerintah, swasta, dan tentunya masyarakat,” sebut Dian.

Sekda menilai, Kuningan yang dicanangkan sebagai Kabupaten Wisata harus betul-betul siap untuk bebas dari sampah. Sebab, selain identik dengan bentang alam yang indah, maka harus pula dijaga soal kebersihan lingkungan.

“Jangan sampai, ketika kita sedang semangat mewujudkan kabupaten wisata baik dari sisi infrastruktur maupun fasilitas lainnya, tapi ternyata pemeliharaan dan kebersihan terkait sampah belum optimal,” ujarnya.

Tak hanya itu, Dian juga menerima masukan dari para perantau, bahwa beberapa titik di taman-taman Kabupaten Kuningan yang terlihat kumuh. Hal itu dikeluhkan akibat kebersihan kurang terjaga, sehingga kenyamanan saat bermain di taman terganggu.

“Nanti penanganan kebersihan taman ini harus melibatkan lintas sektoral. Dinas Lingkungan Hidup merasa bahwa pemeliharaan ini ada di DPRPP, disisi lain DPRPP melihat ini tupoksinya Lingkungan Hidup, tapi kita coba sinergiskan kedepan tentang taman maupun pemeliharaan dan sebagainya harus di-DLH-kan supaya rentang kendalinya pemantauan mudah,” tandas mantan kepala Disdikbud tersebut.

Dia juga berharap, agar masyarakat Kabupaten Kuningan dapat menjadi masyarakat yang sadar terhadap persoalan sampah. “Jangan membuang sampah sembarangan. Apalagi membuang sampah ke sungai, yang nantinya akan menimbulkan penyakit dan bencana bagi kita,” tambahnya.

Dian menambahkan, program Jumat Bersih (Jumsih) yang digagas jajaran TP PKK Kuningan perlu mendapat dukungan dari semua pihak khususnya masyarakat. Program ini bertujuan untuk membuat Kuningan lebih bersih, sehat, dan nyaman.

Hal itu pun diamini Ketua TP PKK Kuningan, Ika Acep Purnama. Sebagai Ketua TP PKK, Ika mengajak seluruh elemen masyarakat Kuningan terlibat dalam menjaga kebersihan di Kuningan.

“Jadi para pedagang harus menyiapkan tempat sampah di tempat berdagang. Kita semua harus bisa mengurangi penggunaan plastik, karena sampah plastik susah diurai oleh alam,” katanya.

Pantauan Radar Kuningan, ceceran sampah banyak bertebaran di jalan lintas kecamatan maupun kabupaten. Misalnya di jalan lingkar Bayuning, tumpukan sampah yang diikat dalam kantong plastik aneka warga terlihat di beberapa titik di sepanjang jalan tersebut.

Sampah yang dibuang sembarangan oleh warga tidak bertanggung jawab itu menebarkan aroma tidak sedap. Padahal tak jauh dari ceceran sampah, ada perumahan warga.

“Kalau lewat situ (jalan lingkar Bayuning, red) pasti menutup hidung. Soalnya banyak tumpukan sampah yang dibuang sembarangan oleh warga. Dan belum pernah ada yang mengangkutnya. Dibiarkan saja di tempat itu,” tukas Halim, pengemudi mobil yang kerap melintas di tempat tersebut. (ags)