Sejarah Panjang Cirebon dan Layar Lebar, Bioskop Paradise Tinggal Kenangan

Bangunan eks gedung Bioskop Paradise saat akan dibongkar. (kanan)Bangunan eks gedung Bioskop Paradise di Jl Pulasaren, sebagian besar sudah dibongkar. Bioskop ini pernah menjadi saksi menggeliatnya industry perfilman di Kota Cirebon. FOTO: IST/OKRI RIYANA/RADAR CIREBON
Bangunan eks gedung Bioskop Paradise saat akan dibongkar. (kanan)Bangunan eks gedung Bioskop Paradise di Jl Pulasaren, sebagian besar sudah dibongkar. Bioskop ini pernah menjadi saksi menggeliatnya industry perfilman di Kota Cirebon.FOTO: IST/OKRI RIYANA/RADAR CIREBON

CIREBON-Captain Marvel, Dilan 1991, bolehlah merajai biskop saat ini. Jauh sebelum itu, Si Pitung juga Nafsu Gila yang wara-wiri di layar lebar. Di Paradise. Malam Minggu selalu spesial untuk Bambang Gunawan (60). Ia kerap menghabiskan waktu bersama pujaan hatinya.

Bermodal uang Rp500, untuk nonton dua film berturut-turut. Favoritnya adalah film silat Mandarin. Ia masih ingat judulnya. “Wang Yu,” kata Bambang, mantap. Film itu menceritakan kehebatan pendekar tangan satu yang menumpas kejahatan dengan pedangnya. Adapun aktor silat lainnya yang terkenal adalah Fu Sen.

Untuk film Indonesia, ia kerap menyaksikan Badai Pasti Berlalu, Intan Berduri, Benyamin Biang Kerok, Bernafas dalam Lumpur, Si Pitung, Nafsu Gila, Ratapan Anak Tiri dan banyak lagi. Bintang filmnya Ratno Timur, Tan Chen Bok, Soekarno M Noer, Wily Sutinah, Benyamin Sueb.

Film-film India dari Bollywood juga tak luput dari jadwal nontonnya. Bersama mantan pacar, yang saat ini menjadi pendamping hidupnya. Memori itu bakal selalu terkenang. Hampir tiap Sabtu malam, Gunawan bersama sang kekasih rela antre berdesakan untuk mendapatkan tiket. Selesai nonton tak lupa membeli martabak. Pulangnya naik becak. “Pokoknya romantis. Jadi masih dikenang sampai sekarang,” tutur Bambang, sembari senyum tipis-tipis.

Paradise merupakan salah satu bioskop tertua di Cirebon. Eksistensinya diakui pada tahun 1970-1990-an. Saat generasi milenial baru saja menatap dunia. Posisinya strategis. Tepat di ujung Jalan Jagasatru dan Pulasaren. Warga Gang Keprabonan tak asing dengan bangunan yang kini sebagian telah dirobohkan.

Dari cerita tokoh masyarakat setempat, Paradise sudah ada sekitar Tahun 1960-an. Pada awalnya bernama Seroja. Mungkin nama tersebut untuk mengenang peristiwa Operasi Seroja. Tapi mulai awal 1970an, nama tersebut diganti menjadi Paradise. Kemungkinan juga untuk mengikuti perkembangan zaman.

Tahun 1980-an, haga tiketnya sekitar Rp500. Ini yang dikenal dulu dengan Matine Show. Ada juga Midnight Show yang diputar tengah malam dan yang diputar pagi sekitar pukul 09.00. Untuk kelas tiket, terbagi beberapa kategori. Istilah loge itu untuk kelas 1. Masuknya dari pintu utama. Tempat nontonnya di balkon yang posisinya di atas. Untuk kelas 2 dan 3 masuk dari pintu samping. Bangkunya berjejer flat. Terbuat dari kayu dengan busa alakadarnya. Bisa menampung 150 penonton.

Di periode yang sama, ada juga biskop yang dinamakan Sridara. Yang kemudian berubah namanya menjadi misbar (gerimis bubar). Nontonnya seperti di lapangan dengan bangku dari betonan. Bila huja, penonton pun bubar. Ini bioskop kelas ekonomi bila mau nonton film. Bambang masih ingat tempat ini. Yang tiap siang dipakai untuk menjemur soun.

Sedangkan bioskop tertua, menurutnya ada di kawasan Ade Irma atau Traffic Garden (Ade Irma, dulu bernama Taman Lalu Lintas). Bioskop ini namanya Capitol. Setelah itu banyak muncul bioskop lain, ada Abadi Murni, Galaxy, Mandala dan kemudian masuk yang lebih modern.

Generasi muda saat ini tentunya tak banyak yang tahu, Cirebon memiliki sejarah panjang gedung bioskop beserta lika likunya. Hingga akhirnya tidak beroperasi dan tutup. Lantas, setelah dibongkar, gedung eks Bioskop Paradise ini mau dibangun apa?

Dari penelusuran Radar Cirebon, sejauh ini belum berbuah informasi yang memuaskan. Lurah Pulasaren, Kecamatan Pekalipan Dewi Fitriyani SIP mengaku belum menerima surat pemberitahuan apapun dari pihak pemilik atau pengelola bangunan. “Iya setelah Paradise, sempat dipakai untuk olahraga biliar. Dibongkar untuk dibangun apa, kami belum tahu,” ungkap Dewi.

Kepala Seksi Tata Bangunan Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang (DPUPR) Pungki Hertanto pun mengungkapkan hal yang serupa. Belum ada surat permohonan izin mendirikan bangunan atau surat teknis lainnya yang masuk. “Ya bila ingin mendirikan bangunan komersial di kota, harus berkonsultasi dengan kami dulu terkait tata ruangnya,” tegasnya.

Namun, jadi apapun nantinya. Gedung Paradise yang  sudah dibongkar, tapi kenangan masa lalu tetap tak bisa dilupakan. (gus)