Sekolah Bantah Keluarkan Baim, Hanya Minta Baim Istirahat di Rumah, Fokus Penyembuhan

Mata kiri Baim tertusuk pensil tajam temannya. Dia didiagnosa dokter mengalami kebutaan. Namun, Baim malah dikeluarkan dari sekolahnya. FOTO: DENY HAMDANI/ RADAR CIREBON
Mata kiri Baim tertusuk pensil tajam temannya. Dia didiagnosa dokter mengalami kebutaan. Namun, Baim malah dikeluarkan dari sekolahnya.FOTO: DENY HAMDANI/ RADAR CIREBON

CIREBON-Pihak Sekolah RA Al Ikhlas Kedawung membantah keras tudingan orang tua Ben Haim Josua (Baim) yang menyatakan sekolah mengeluarkan Baim. Padahal, sekolah hanya meminta agar Baim istirahat di rumah untuk fokus pada penyembuhan matanya. Setelah sembuh, baru kembali bersekolah.

Kepala RA Al Ikhlas Kedawung Watno mengatakan, pihaknya sama sekali tidak pernah mengeluarkan Baim pasca insiden mata Baim tertusuk pensil oleh teman satu kelasnya, saat jam pelajaran berlangsung. Sehingga menyebabkan kebutaan pada mata kiri Baim. “Kita tidak pernah mengeluarkan Baim dari sekolah ini. Yang kami keluarkan hanya siswa yang menusuk mata Baim,” ujarnya.

Watno mengungkapkan, alasan pihaknya untuk mempersilakan Baim beristirahat tidak mengikuti pembelajaran selama masa pengobatan. Kalau dalam penyembuhan Baim sekolah, lalu terjadi apa-apa lagi, nanti siapa yang akan bertanggung jawab. Makanya untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, pihaknya meminta agar Baim istirahat di rumah.

Pihaknya menjelaskan, bahwa Baim termasuk kategori anak yang hiperaktif. Sehingga pihaknya meminta ketika Baim kembali bersekolah, agar orang tua yang bersangkutan bisa mendampingi dan tidak terulang kejadian serupa. “Baim itu termasuk anak yang hiperaktif ya. Makanya kita minta kalau Baim kembali bersekolah, orang tuanya ikut mendampingi,” jelasnya.

Pihaknya sudah berusaha mengantisipasi, sebelum kejadian tercoloknya mata Baim oleh rekan sekelasnya. “Sebelum itukan ribut dulu itu anak-anak. Padahal guru kelas sudah melerai supaya jangan ribut lagi. Lalu terjadi peristiwa itu,” ujarnya.

Watno mengungkapkan, pihak sekolah sudah bertanggung jawab dengan memberikan sumbangan kepada Baim. Jumlahnya Rp3 juta dan uang Rp250 ribu setiap bulan selama enam bulan ke depan. Setidaknya, cara itu bisa meringankan beban orang tua Baim. “Ya maklum kita kan sekolahnya di kampung. Bayaran anak juga Rp35 ribu setiap bulan. Itupun sumbangan berasal dari potongan gaji guru-guru kami yang dengan sukarela menyisihkan gajinya untuk Baim,” bebernya.

Padahal menurut Watno, orang tua Baim sudah menyadari bahwa insiden tersebut tidak semata-mata kesalahan pihak sekolah. Namun dia tidak habis pikir, kenapa di luar, orang tuanya bicara seperti itu. “Di hadapan kami pihak orang tua tidak menyalahkan siapa-siapa atas insiden ini,” pungkasnya. (den)