Sekolah Mengaku Kasus Pengeroyokan Sudah Didamaikan

Hanya Dibesar-besarkan Orang Tua Saja

ILUSTRASI

CIREBON-Pengakuan berbeda diberikan oleh pihak sekolah SD korban. Patonah, selaku kepala sekolah mengakui kebenaran peristiwa dugaan pengeroyokan tersebut. Tapi, menurutnya, pihak sekolah telah mempertemukan kedua pihak agar kasus tersebut diselesaikan secara kekeluargaan.

“Berbagai macam cara dan mediasi sudah saya lakukan. Saya juga sudah ngobrol dengan orang tua korban,” ujar Patonah saat dikonfirmasi Radar Cirebon.

Dijelaskan, sejak kasus tersebut mencuat, pihaknya telah mengupayakan jalan tengah agar tidak sampai berlanjut di kepolisian. Ia mengaku tidak menyangka, kasus yang terjadi 5 bulan lalu masih ditangani penegak hukum. “Karena dulu sudah bilang tidak akan memperpanjang. Tapi sekarang terjadi lagi seperti ini, maunya seperti apa,” tanya Patonah.

Secara tegas, dia menyebut jika masalah tersebut telah dituntaskan secara baik. Permintaan raport juga sudah diberikan. Bahkan, pihaknya berencana menggandeng Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) untuk mendampingi dan memberikan perlindungan kepada korban. “Sekarang saya titip pesan aja, bilang dari ibu kepala sekolah. Tujuan bapak-ibu mengambil raport dulu itu apa? Tujuannya apa? Udah gitu aja, pasti mereka mengerti,” tegas Patonah.

Baca: https://www.radarcirebon.com/anak-sd-trauma-tak-mau-sekolah-diduga-dikeroyok-melibatkan-ortu-siswa.html

Ia juga merasa heran jika saat ini korban kembali menuntut secara hukum. Sedangkan, dulu korban , kata Patonah, pernah mengatakan akan mencabut laporan. Janji akan mencabut laporan itu disampaikan saat ibu korban mengambil raport. “Kenapa sekarang seperti itu lagi. Mungkin ada yang manas-manasi. Karena ke sayanya udah tunduk-tunduk, udah saya nasehatin juga,” tuturnya.

Patonah bahkan menolak jika korban disebut mengalami sakit yang parah. Sebab, ia melihat korban masih sempat lari-lari setelah peristiwa dugaan pengeroyokan terjadi. Selain itu, ia juga pernah menjenguk korban. Menurutnya korban juga tidak pernah dirawat di rumah sakit.

“Betul memang 5 bulan sudah tidak sekolah, tapi saat itu sudah bisa lari-lari lah, apalah. Jadi menurut saya hanya dibesar-besarkan saja. Ini masalah biasa sebenarnya. Cuma orang tuanya kayaknya gimana gitu,” lanjut Patonah.

Dia juga memperingatkan kepada ibu korban untuk tidak membesar-besarkan masalah yang dialami sesama anak-anak. Sebab, hal itu akan menyulitkan masa depan dan pergaulan di jenjang pendidikan berikutnya.

“Ke mana saja anak itu akan bergaul, nanti kalau anaknya kegesek dengan teman-temannya lagi dan ibunya kayak gitu lagi, sekolah tidak akan ada yang menerima kalau kayak gitu. Capek saya juga. Betul, capek banget,” tandasnya. (day)

Berita Terkait