Selter Pujabon Bisa “The End”, Dari 70 Kios, Cuma Satu Pedagang yang Nekat Buka

Suasana selter Pujabon semakin sepi, hanya tersisa satu pedagang. FOTO:ADE GUSTIANA / RADAR CIREBON
Suasana selter Pujabon semakin sepi, hanya tersisa satu pedagang.FOTO:ADE GUSTIANA / RADAR CIREBON

CIREBON–Pasca ditutupnya Selter Pusat Jajanan Cirebon (Pujabon) di Jl Dr Cipto MK karena gangguan ular,  kini kondisinya semakin memburuk. Jumlah pedagang menyusut drastis. Pantauan Radar Cirebon Senin (16/9), dari 70 kios hanya satu pedagang yang memilih tetap berjualan.

Bila kondisi tersebut dibiarkan tanpa solusi, keberadaan pusat tempat makan yang di awal pembangunannya berpolemik karena mirip kandang sapi, bisa saja tinggal menghitung hari. Selter Pujabon bisa benar-benar berakhir. Pedagang yang masih nekat berjualan itu adalah Dian. Dia menjual es sirup dengan kacang ijo. Siang itu, hanya ada satu pembeli. Gerbang menuju selter pun hanya dibuka setengah.

Dian mengungkapkan pedagang lainnya masih sibuk dengan urusan masing-masing. Dian mengakui, pasca penutupan selter karena gangguan ular, pedagang dan pembeli semakin hilang. “Kadang dua yang dagang, sekarang sendiri. Tadi (kemarin pagi, red) mah ada dua, cuma satu lagi udah pergi,” katanya kepada Radar Cirebon.

Dian menyebut, pedagang yang aktif hanya tersisa sekitar 7 orang. Adapun yang lain, lebih sering tidak menetap. Kondisi itu, lantaran mereka tidak kuat menghadapi selalu sepinya pengunjung. Sebelumnya, pemerhati PKL, Akbar Mutaqin menuturkan, selter Pujabon butuh dihuni oleh SDM unggul. Agar pengunjung yang sempat singgah, ingin kembali untuk membeli karena tempat atau olahan masakan, mempunyai kualitas tidak biasa.

Akbar Mutaqin sendiri pernah berjualan sebagai PKL. Termasuk salah seorang pengurus di selter Pujabon. Dia juga pernah mengikuti studi banding mengenai PKL atau pemanfaatan selter di Surabaya sekitar tahun 2016 silam.

“Saat itu bersama pak sekda juga dan beberapa perwakilan PKL. Cuma ilmu yang didapat tidak dipakai dan diterapkan. Kita butuh SDM unggul. Pedagang khususnya. Agar makanan yang mereka jual memiliki kualitas, sehingga pengunjung mau kembali untuk membeli dan tidak hanya sekali,” tukasnya.

Akbar mencontohkan ilmu yang didapat dari studi banding tersebut. Seperti mengemas dan menyajikan makanan dengan cara berbeda dengan tempat lain. “Misalnya olahan ayam kita gabungkan dan tata hidangannya agar unik dan berbeda. Harusnya dinas memfasilitasi pelatihan itu kepada pedagang di sini,” pungkasnya. (ade)

[adrotate banner="13"]

Berita Terkait