Sepotong Riwayat Teh di Priangan

Pabrik Teh Argalingga (Sumber: Tropenmuseum)

DI SELA kunjungan kerjanya di Inggris, Ridwan Kamil menyempatkan untuk mampir ke kantor salah satu produsen teh Inggris, Finlays. Selain melihat proses produksi teh, dia pun memperlihatkan kepada mereka teh asal Jawa Barat.

“Saya datang ke sini (kantor Finlays, red) untuk jadi marketing, mencoba jualan teh produk Jawa Barat,” katanya.

Teh yang ditunjukkan Emil, sapaan akrab Ridwan Kamil, kepada pihak Finlays adalah produk teh PTPN VIII. Salah satunya white tea termahal di dunia yang berharga 60 USD per kilogram

Perjalanan Ridwan Kamil ini mengingatkan Indonesia telah lama dikenal sebagai salah satu negara penghasil teh. Tapi tahukah Anda bahwa di seluruh Indonesia, hanya Jawa Barat yang memiliki perkebunan teh yang paling banyak dibandingkan provinsi lain?

Tak heran jika di zaman penjajahan dulu, Belanda sengaja mengonsentrasikan perkebunan teh di Jawa Barat. Saat itu teh sebagai komoditas dagangan sudah dibawa oleh para pedagang Tionghoa asal Kanton dan Fokien yang berlabuh di Batavia. Seperti diketahui, orang-orang China sudah memiliki tradisi meminum teh sejak ribuan tahun lalu. Orang – orang Belanda di Hindia Belanda sendiri diketahui memiliki tradisi minum teh yang biasanya dilakukan saat sarapan pagi.

Penanaman pohon teh pertama di tanah Jawa sendiri tidak dapat dipastikan. Namun pada tahun 1691 Dr. Valentijn, seorang sejarawan terkemuka, menemukan sepucuk tanaman ini di kebun milik Gubernur Jenderal  J. Champhuis yang terletak di Nieuw Poort Batavia. “…allerlei zeldzame gewasschen, jonge thee boomkens nit China als aalbessen boomkens…”, ujarnya yang berarti “ Terdapat tiga jenis tanaman langka, pohon teh muda asal China setinggi pohon kismis”. Sejak penyebutan oleh Valentijn tersebut, cukup lama waktu yang dibutuhkan bagi pemerintah kolonial untuk memberi perhatian lebih pada tanaman teh.

Dalam satu surat tertanggal 15 Maret 1728 yang dikirimkan kepada VOC oleh salah seorang direkturnya di Belanda, tercatat usulan untuk memulai perdagangan dan penanaman komoditas teh di Jawa, mengingat orang-orang Eropa lainnya terbukti telah berhasil mendapatkan keuntungan besar lewat perdagangan komoditas ini di China. Usulan ini dilanjutkan dengan surat selanjutnya yang dikirimkan pada bulan Desember tahun yang sama, berisikan iming-iming hadiah kepada VOC untuk setiap pon teh yang berhasil diproduksi di pulau Jawa. Namun mengingat keadaan VOC yang lagi krisis keuangan saat itu, usaha pembudidayaan teh di pulau Jawa tidak sempat dilakukan.

Pasca kematian VOC, Pemerintah Kolonial mulai melanjutkan upaya serius untuk merintis penanaman teh di pulau Jawa. Pada tahun 1920, pemerintah menyewa jasa seorang Botanis Perancis bernama Diard, yang dibayar sebesar 300 fl./tahun (cukup tinggi untuk ukuran zaman itu), untuk mengembangkan tanaman-tanaman yang memiliki potensi ekonomi, salah satunya teh. Namun upaya itu tidak berjalan mulus, beberapa kali upaya pengiriman  bibit teh dari China oleh Diard pada tahun 1822, 1823, dan 1824 hanya berbuah kegagalan. Tanaman teh yang dibawanya mati di perjalanan. Singkat cerita, pada tahun 1825, muncul inisiatif dari Dr. Von Siebold untuk mengambil bibit  dari perkebunan teh yang berhasil didirikan EIC (VOC ala Inggris) di daerah Assam, India. Bibit tanaman teh tersebut langsung ditanam di Kebun Botani Bogor setahun kemudian. Sebagian dikirimkan ke daerah Limbangan, Garut untuk dibudidayakan oleh seorang Inggris bernama Kent.

Pada bulan Juli 1927, sudah berhasil dikembangkan sebanyak 1.500 tanaman teh di Bogor dan Limbangan. Melihat keberhasilan tersebut, Tidak lama kemudian Komisaris Jendral Hindia Belanda du Bus Gesegnies pada tanggal 27 September 1827 mendatangkan seorang ahli teh dari NHM (Nederlandse Handel Matschappij), Jacobus Isidorus Loudewijk Levian  Jacobson, untuk diangkat sebagai pemimpin upaya pembudidayaan teh di Jawa dengan gaji sebesar 10.000 Fl. / tahun. Dalam upayanya guna bisa menghasilkan tanaman teh terbaik, Jacobson melakukan beberapa perjalanan ke China antara tahun 1828-33.

Jacobson menemukan bahwa penanaman bibit-bibit teh terbaik yang dibawanya dari China terkendala oleh ketiadaan pengelola perkebunan teh yang handal di Jawa. Untuk mengatasi masalah tersebut Jacobson “mengimpor” seorang penanam teh beserta empat pembuat teh dan tujuh artisan (ahli teh) langsung dari China pada tahun 1832. Pada awalnya pengembangan budidaya teh mengalami peningkatan pesat, namun lama kelamaan pemerintah merasa keuntungan yang dihasilkan tidak sebanding dengan pengeluarannya sehingga lambat laun melepas monopoli pengelolaan perkebunan teh kepada swasta. Perkebunan teh terakhir yang dimiliki pemerintah,Jatinangor dan Cikajang – pun dilepas pada tahun 1865.

Perkembangan perkebunan teh kembali mengalami kemajuan terutama setelah benih teh China mulai digantikan oleh bibit teh Hibrida asal Assam India yang didatangkan A.W. Holle dari Assam, Jaipur, Bazaloni dan Manipur India tahun 1878. Bibit teh Assam tersebut dibudidayakan oleh R.E. Kerkhoven di Gamboeng. Teh yang ditanam dikawasan Priangan ini memiliki rasa yang khas dibanding teh dari negara lainnya. Dikutip dari Donald Maclaine Campbell tahun 1915, “The flavour of Java tea, which seems more to depend on altitude than localconditions or soil, etc., whilst lacking the strength of the Indian teas or thesoftness of some of the China ” chops,” is delicately fine, and apurer or more wholesome tea is not to be found anywhere.”

Berbeda dengan tanaman kopi yang menimbulkan mimpi buruk bagi warga Priangan. Teh merupakan “mimpi yang lebih baik” karena pengelolannya yang dilakukan oleh swasta.  Orang-orang swasta atau partikulir ini lebih manusiawi dalam memperlakukan bangsa pribumi dibandingkan pengelola perkebunan kopi yang dimonopoli pemerintah beserta jajarannya. Apabila pembudidayaan kopi dilakukan lewat metode “tanam paksa”, pembudidayaan teh dilakukan secara sukarela oleh masyarakat di Priangan, yang mula-mula dilakukan di halaman rumahnya untuk kemudian disetorkan kepada pengusaha perkebunan.

Pada tahun 1870, perkebunan teh swasta mulai membagikan bibit tanaman teh kepada rakyat di desa-desa terdekat. Desa-desa penghasil teh ini lantas dikenal sebagai “kampoeng daoen” tulis Ponder,  tahun 1934.  Ini menjadi awal bagi penanaman teh rakyat diJawa Barat.

Didukung oleh UU Agraria tahun 1870 yang memungkinkan pemilikan lahan secara perorangan, petani teh lokal mulai leluasa mengembangkan pertanian yang tadinya hanya dilakukan di halaman rumah menjadi perkebunan yang lebih luas. Terjadi hubungan simbiosis antara petani teh dengan pengolah daun teh. Para petani menjual pucuk teh kepada pabrik teh terdekat. Hampir setiap perkebunan swasta memiliki pabrik teh sendiri.

Para pemilik perkebunan teh di Priangan dengan julukannya sebagai “Preanger Planters” berhasil meraup kekayaan yang luar biasa dari komoditas teh. Sebagai gambaran, Sir Walter Kinloch yang mengunjungi perkebunan milik Mr.Brumsteede di Tjembooliyut (Cimbeuleuit) pada tahun 1852 mengungkapkan bahwa perkebunan tersebut setiap tahunnya menghasilkan 152.000 pon teh, dengan biaya produksi tiap pon-nya yang berkisar 45 sen, teh dijual ke pemerintah dengan harga 75 sen. Artinya dari tiap pon teh saja, seorang pengusaha sudah memperoleh keuntungan 30 sen. Untuk mengetahui keuntungan totalnya, profit tersebut tinggal dikalikan saja dengan seluruh hasil produksi. Sebagian besar teh dari Jawa khususnya Priangan dikirimkan ke Inggris. Tidak aneh mengingat orang-orang Inggris mengkonsumsi lebih dari setengah produksi teh dari seluruh dunia.

Para Preanger Planters  yang kekayaannya luar biasa ini nantinya akan memberi andil besar dalam pembangunan kota Bandung khususnya. Mereka juga dikenal memiliki kepekaan sosial yang cukup tinggi dengan orang Pribumi mengingat keseharian mereka yang selalu berada di tengah perkebunan teh dan selalu berhubungan dengan masyarakat setempat. Dari keluarga “Raja Teh Priangan” sempat muncul beberapa nama seperti Karel Frederik Holle, Kerkhoven dan Bosscha yang memiliki perhatian besar terhadap kehidupan orang Pribumi. Tanpa andil Kerkhoven dan Bosscha, mungkin Technische Hogeschool  (ITB) tidak akan pernah berdiri. (*)