Septi Ariyani SPi Berjuang Mengangkat ‘Derajat’ Garam Cirebon

Di tangan Septi Ariyani, garam lokal dari Cirebon naik kelas. Garam-garam yang biasanya berada di dapur kini sudah ada di salon-salon perawatan dan kecantikan. FOTO:ANDRI WIGUNA/RADAR CIREBON
Di tangan Septi Ariyani, garam lokal dari Cirebon naik kelas. Garam-garam yang biasanya berada di dapur kini sudah ada di salon-salon perawatan dan kecantikan. FOTO:ANDRI WIGUNA/RADAR CIREBON

CIREBON-Seiring perkembangan teknologi dan pengetahuan, garam yang dulunya hanya nangkring di dapur kini sudah pindah ke salon-salon kecantikan. Dihargai begitu mahal. Tak hanya menawarkan rasa asin untuk penyedap dan rasa makanan, tapi banyak manfaat untuk kesehatan dan perawatan tubuh.

Sebuah pilihan sulit harus dihadapi oleh Septi Ariyani SPi pada tahun 2015 lalu. Antara mengejar cita-citanya untuk menjadi abdi negara atau terjun menjadi pengusaha sesuai dengan passionnya. Dan, pilihan tersebut akhirnya berbuah manis tatkala Septi memutuskan untuk terjun menjadi pengusaha di bidang yang hampir sama dengan apa yang ia geluti selama kurang lebih 8 tahun bekerja sebagai tenaga pendamping program pemberdayaan usaha garam rakyat (Pugar) KKP hingga memutuskan berhenti di tahun 2015.

“Saya memutuskan untuk berhenti pada Desember 2015 dan fokus mengembangkan garam secara mandiri menjadi produk turunannya yang secara nilai ekonomis akan jauh lebih mahal ketimbang garam rakyat biasa,” ujar ibu dua anak yang tinggal di Perum Griya Caraka, Kedawung, Kabupaten Cirebon itu.

Septi kemudian mulai memulai kisahnya dalam mengembangkan dan meningkatkan nilai serta ‘derajat’ garam di Cirebon. Bukan tanpa halangan, persoalan utama adalah minimnya pasokan raw material (bahan baku) garam yang sesuai dengan kriteria garam yang layak untuk kesehatan ataupun perawatan.

“Garam di Cirebon masih sedikit sekali yang menggunakan geomembrane atau isolator sehingga untuk mendapatkan raw material cukup sulit. Garam krosok yang menggunakan alas tanah tidak bisa, karena sudah bercampur lumpur. Akhirnya kita rekrut petani agar mampu dan bisa memproduksi garam sesuai dengan kriteria yang kita mau. Harus bersih, NaCl-nya juga harus setara garam industry,” imbuhnya.

Setelah berhasil mendapatkan pasokan, produk turunan garam yang pertama kali ia buat adalah bom salt. Bom salt sendiri adalah garam yang dicampur beberapa bahan lain yang kemudian disetak bulat dan dikemas dengan menarik. Seluruh produksi garam untuk kesehatan dan perawatan tersebut diproduksi di galerinya di Desa Grogol, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon.

“Sambutan pasar cukup bagus. Terlebih kita pasarkan juga di online, banyak peminat. Pasarnya dari mulai salon perawatan tubuh dan hotel-hotel. Bom salt ini cara kerjanya dimasukan ke dalam bathtub dan secara otomatis bom salt akan terurai sendiri dengan mengeluarkan buih-buih yang berguna untuk kesehatan tubuh,” jelasnya kepada Radar di Rumah Garam Rama Sinta.

Di Rumah Garam Rama Sinta, Septi dan empat orang karyawannya memproduksi berbagai produk turunan dari garam khusunya untuk perawatan dan kesehatan. Rawa material garam di tangan Septi diolah kembali dan dicampur dengan bahan-bahan tertentu sehingga menjadi garam dengan khasiat tertentu.

“Kita sudah produksi sejak beberapa tahun terakhir. Sudah ada tujuh produk yang kita produksi yang kegunaannya untuk perawatan dan kesehatan tubuh dari mulai ujung rambut sampai ujung kaki. Harganya relatif untuk pemasaran sendiri sudah merambah ke berbagai wilayah, baik di Pulau Jawa maupun di luar Jawa,”tambahnya.

Dari tiap produk tersebut, masing-masing ada turunan variannya juga sehingga setiap satu produk bisa ada 5 sampai 7 varian. Septi mengaku untuk pemasaran masih mengandalkan penjualan lewat online, baik oleh pembeli langsung ataupun lewat agen dan reseler.

“Kalau produk yang paling banyak pemesan itu foot salt. Itu untuk terapi kaki, ada aromaterapinya. Paling laris. Untuk harga beragam, tergantung jenis dan proses yang dilakukan saat produksi. Yang kita pakai ini bahan-bahan pilihan. Semuanya kita lakukan di sini, di Rumah Garam Ramah Sinta,” terangnya.

Omzet setiap bulan dari penjualan produk perawatan dan kesehatan di Rumah Garam sekitar Rp25 juta sampai Rp30 juta. Pada awalnya, Septi hanya menerima raw material dari petani garam. Namun seiring berjalannya waktu, konsistensi petani untuk membuat garam berstandar industri tak bisa diandalkan. Bahkan produksinya kadang terhambat karena sulit mendapatkan raw material. Karena itu, ia pun berinisiatif untuk membuat garam sendiri dengan kualitas yang sesuai dengan kebutuhannya.

“Seringnya berinteraksi dengan para petani garam sedikit banyak akhirnya membuat saya paham dan mengerti tentang cara membuat dan memproduksi garam untuk kualitas bagus dengan menggunakan teknologi tepat guna. Saya sekarang memproduksi garam di lahan seluas kurang lebih 30 hektare di Kertasura,” tutur ibu dari Hafidz dan Jasmine tersebut.

Dari hasil produksinya saat ini, Septi bisa memasok kebutuhan garam industri, dan sisanya untuk produksi di rumah garam untuk kebutuhan garam kesehatan dan perawatan serta kecantikan. “95 persen kirim ke industri dan sekitar 5 persen kita gunakan untuk produksi di Rumah Garam Rama Sinta. Untuk industri, pasarnya masih sangat terbuka karena untuk pemenuhan kuota industri masih mengandalkan garam impor. Yang kita produksi di Cirebon ini adalah garam industri yang kandungan NaCl-nya setara dengan garam industri,” katanya.

Septi pun masih punya banyak mimpi yang belum terwujud. Salah satunya membuat rumah garam yang terintegrasi dengan fasilitas perawatan dan kecantikan sehingga setiap pengunjung yang datang bisa langsung mencoba produknya. Impian lainnya yang masih dikejar oleh alumni SMA 6 Cirebon tersebut terutama tentang pengembangan garam menjadi produk lain yang bermanfaat untuk masyarakat.

Diakuinya, untuk menggapai semua mimpi tersebut tentu bukanlah hal mudah. Butuh kekuatan, ketabahan, dan kesabaran karena perjalan yang bakal dihadpi penuh dengan tantangan dan butuh perjuangan yang sungguh-sungguh.

InsyaAllah saya akan terus berjuang di jalan ini. saya optimis rumah garam akan semakin besar dan mampu menjawab tantangan zaman. Apalagi kita ini adalah rumah garam pertama di Indonesia,”pungkasnya. (dri)

[adrotate banner="13"]

Berita Terkait