Serahkan Arsip Presiden Kedua RI Soeharto, Mbak Tutut: Soeharto Tidak Pernah Mengundurkan Diri

Siti Hardiyanti Rukmana alias Mbak Tutut melihat koleksi foto ayahnya, Presiden RI ke-II Soeharto, di Kantor Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Jakarta Selatan, Kamis (18/7). (NET)

JAKARTA-Presiden kedua RI, Soeharto tidak pernah mengundurkan diri sebagai presiden. Tidak ada kata-kata mundur dalam pidato penguasa Orde Baru itu pada 21 Mei 1998 lalu.

Begitu tegas putri kedua Soeharto, Siti Hardiyanti Rukmana usai menyerahkan Arsip Presiden Soeharto kepada Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Kamis (17/7).

Dikoreksi wanita berkerudung yang akrab disapa Mbak Tutut itu, Soeharto menyatakan berhenti sebagai presiden. Tapi bukan mengundurkan diri.

“Saya koreksi. Bukan mengundurkan diri, tapi berhenti. Bapak selalu pakai istilah berhenti dan beliau memakai istilah berhenti itu setelah mencari di dalam UUD 1945,” ujarnya.

Mbak Tutut menjelaskan bahwa ada perbedaan makna mendalam antara mengundurkan diri dan berhenti. Mengundurkan diri, sambungnya, sama saja tidak bertanggung jawab saat masih menjalankan tugas.

“Kenapa nggak mengundurkan diri saja? Beliau mengatakan bahwa kalau saya (Soeharto) sebut mengundurkan diri berarti saya belum selesai tugas sudah mundur. Itu artinya tidak tanggung jawab,” jelas Tutut.

Atas alasan itu, Soeharto kemudian menggunakan istilah berhenti. Maknanya, Soeharto berhenti sebagai presiden karena sudah tidak lagi dipercaya rakyat.

“Yang memperkerjakan saya (Soeharto) itu tidak percaya, supaya saya tidak kerja lagi kerja di situ, ya saya berhenti. Jadi istilah itu mohon diterapkan. Jadi bukan mengundurkan diri, tapi berhenti,” jelasnya.

Adapun kala itu, Soeharto memilih berhenti karena tidak ingin ada korban terus berjatuhan, di mana kondisi saat itu mahasiswa dan rakyat bersatu menuntut reformasi.

“Terus kalau ditanya, kenapa kok tidak terus saja waktu itu jadi presiden. Ada salah satu rekan beliau menanyakan. Dia menjawab bahwa kalau saya terus, berarti akan makin banyak generasi-generasi muda yang menjadi korban,” katanya.

“Jadi lebih baik berhenti, biarlah nanti generasi yang lain bisa meneruskan perjuangan bapak,” demikian Mbak Tutut. (*)