Sering Dikira Al Aqsa, Begini Riwayat Sesungguhnya

Gambar denah Masjid Al-Aqsha dalam bahasa Arab. Kubah Ash-Shakhrah dan Al-Jami' al-Aqsha (di gambar disebut Al-Jami' al-Qibli) diberi tanda khusus. (Wikipedia)

Keputusan Presiden Donald Trump untuk mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel yang disambut kutukan dunia menegaskan posisi kota tua itu yang sangat khusus bagi Israel dan Palestina.

Dalam bahasa Ibrani disebut Yerushalayim, ada yang menyebut Tsiyown atau Zion, atau dalam masa Romawi disebut Ilya atau Aelia Capitolina, dan dalam bahasa Arab disebut al-Quds. Yerusalem merupakan salah satu kota tertua di dunia. Di masa lalu, kota ini pernah berulang kali direbut, ditaklukan, dihancurkan dan dibangun kembali oleh berbagai pihak, dan seakan setiap lapisan buminya mengungkapkan berbagai potongan sejarah masa lalu.

Kota Tua Yerusalem hanya seluas kurang dari 1 km persegi, tapi mencakup banyak situs suci dari tiga agama: Islam, Yahudi, dan Kristen.

Bagi umat Islam, Masjidil Aqsa adalah kiblat pertama dan masjid suci ketiga terbesar setelah Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Madinah.

Bagi umat Kristen, di tempat itu Yesus disalib dan dibangkitkan. Sementara bagi umat Yahudi, Kota Tua Yerusalem adalah tempat paling suci, situs bekas kerajaan Israel dan kuil-kuil Yahudi.

Masjidil Aqsa

Dikutip radarcirebon.com dari berbagai sumber, Rabu (3 April 2019). Tidak seperti yang diyakini banyak orang. Jika kita mengetik Masjidil Aqsa pada search pencarian Google, maka akan ditampilkan banyak gambar bangunan seperti ini:

Padahal, Masjidil Aqsa bukanlah masjid berkubah emas

Masjidil Aqsa adalah sebuah kompleks di Kota Tua Yerusalem yang mencakup Kubah Batu (Dome of Rock) yang berkubah emas, Masjid Qibly, Masjid Buraq, dan Masjid Marwani. Masjid Qibly yang biasa disebut Masjid al-Aqsa karena paling dekat dengan kiblat di Kabah, Mekah.

Kompleks masjid-masjid ini dinamakan Masjidil Aqsa atau kompleks Al-Haram Asy-Syarif.

Masjid Qubbat as-Sakhrah atau Masjid Kubah Batu, dan dikenal dengan sebutan Dome of the Rock, kaum Yahudi biasa menyebutnya Temple Mount (Gunung Kuil) ini, adalah sebuah bangunan yang terletak di tengah-tengah kompleks Al-Haram asy-Syarif, Masjid Al-Aqsa, di Kota Yerusalem.  Masjid ini biasanya disebut juga dengan Masjid Umar. Pembangunan masjid ini dimulai ketika Yerusalem jatuh ke dalam kekuasaan Islam pada era Khalifah Umar bin Khattab.

Terletak di Baitul Muqaddis, Qubbat As-Sakhrah adalah seni bangunan agung Islam pertama yang didirikan antara tahun 685 M hingga 691 M oleh Khalifah Abdul Malik bin Marwan, khalifah Kerajaan Ummaiyyah. Kubah ini dibangun setengah tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah masjid pertama yang menggunakan kubah dalam sejarah arsitektur Islam.

Interior Masjid Kubah Batu dihiasi dengan arabesk–hiasan berbentuk geometris, tanaman rambatan, dan ornamen kaligrafi. Unsur hiasan ini sempat menjadi ciri khas arsitektur Islam sejak abad ke-7 M. Hingga kini, kaligrafi masih menjadi ornamen yang menghiasi interior bangunan sebuah masjid.

Pembangunan masjid berkubah ini sepenuhnya dikerjakan dua orang Muslim dari Palestina, yaitu Raja’ bin Hayat dari Bitsan dan Yazid bin Salam dari Jerusalem. Pembangunan kubah diprakarsai oleh Khalifah Abdul bin Marwan yang terdiri atas tiga tingkatan.

Tingkatan pertama dan kedua tingginya mencapai 35,3 meter. Secara keseluruhan, tinggi masjid itu mencapai 39,3 meter. Ruang di dalamnya terdiri atas tiga koridor yang sejajar melingkari batu (sakhrah). Koridor bagian dalam merupakan lantai tawaf yang langsung mengelilingi batu, seperti tempat tawaf di Masjidil Haram.

Dipenuhi ukiran-ukiran model Bizantium, di dalamnya terdapat mihrab-mihrab besar. Jumlahnya 13 buah dan masing-masing mihrab terdiri atas 104 mihrab kecil. Untuk memasukinya, ada empat pintu gerbang besar yang masing-masing dilengkapi atap.

Di dalam masjid, terdapat batu atau sakhrah berukuran 56×42 kaki. Di bawah sakhrah, terdapat gua segi empat yang luasnya 4,5×4,5 meter dan tingginya 1,5 meter.
Sebagaimana ukiran-ukiran di dalam masjid, bentuk kubahnya juga banyak dipengaruhi arsitektur Bizantium.

Yang menarik dan istimewa, Masjid al-Aqsha (Masjidil Aqsha) adalah kiblat pertama umat Islam dan merupakan salah satu tempat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perjalanan Isra. Dalam as-Sirah, ketika menjelaskan peristiwa Isra Mi’raj, Ibnu Ishaq menuturkan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu diperjalankan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yaitu Baitul Maqdis di Ilya.”

Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami... (QS. al-Isra: 1).

Dikutip dari Ensiklopedia Sirah Nabi Muhammad, bahwa disebut aqsha (terjauh) karena jauhnya jarak antara Masjidil Aqsha dengan Masjidil Haram. Bagi umat Islam, Masjidil Aqsha adalah masjid yang dimulaikan untuk diziarahi. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebut Masjidil Aqsha sebagai tempat yang sekelilingnya diberkahi. Berkah tersebut mencakup keberkahan dalam bidang agama dan bidang dunia.

Keberkahan di bidang agama karena merupakan tempat turunnya para nabi, sedangkan keberkahan dunia karena dikelilingi oleh kebaikan-kebaikan duniawi, yaitu terdapatnya sungai-sungai, pohon-pohon, dan buah-buahan yang semua itu menjadi sebab terpenuhnya kehidupan dan bahan makanan.

Masjidil Aqsha adalah masjid kedua yang dibangun di atas bumi sebagaimana hadits Abu Dzar yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan muslim. Dia berkata, “Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah! Masjid manakah yang pertama dibangun di mukan bumi?’ Beliau menjawab, ‘Masjidil Haram.’ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian masjid mana?’ Beliau menjawab, ‘Masjidil Aqsha.’ Aku bertanya lagi, ‘Berapa jarak (pembangunan) antara keduanya?” Beliau menjawab, ‘Empat puluh tahun.’”

Terdapat perbedaan pendapat mengenai siapakah yang pertama membangunnya. Pendapat pertama menyatakan bahwa yang pertama adalah salah seorang putra Nabi Adam ‘alaihissalam. Pendapat kedua menyatakan bahwa yang pertama membangunnya adalah para malaikat kemudian sebagian besar para nabi merawatnya.

Disebutkan bahwa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam  memperkokoh bangunannya. Demikian pula yang dilakukan oleh Nabi Ya’qub ‘alaihissalam dan yang dilakukan Nabi Dawud ‘alaihissalam serta putranya, Nabi Sulaiman ‘alaihissalam, ketika umat Islam menaklukan Al-Quds pada tahun 15 Hijriah, Khalifah Umar ibnu al-Khaththab memasuki pelataran Masjidil Aqsha dan mengatakan, “Demi Allah! Inilah masjid Dawud ‘alaihissalam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan kepada kami bahwa di sinilah beliau di-isra’-kan.” Umar ra lalu memerintahkkan agar Masjidil Aqsha dipugar.

Semenjak ditaklukkan oleh umat Islam, masjid tersebut menjadi perhatian para khalifah. Adapun yang paling terkenal melakukan pemugaran adalah al-Walid bin Abdil Malik yang berasal dari Daulah bani Umayah pada tahun 72 Hijriah.

Pada tahun 1099 Masehi, Pasukan Salib menyerbu kota al-Quds, mengepung, mendudukinya, serta membantai laki-laki, perempuan, dan anak-anak. Panglima Salib Raymonf memasuki pelataran Masjidil Aqsha di antara mayat-mayat yang berserakan dan darah yang mengalir. Al Quds jatuh di bawah pendudukan Tentara Salib selama 91 tahun.

Kegelapan al-Aqsha tidak berlangsung lama sebab atas izin Allah, pada tahun 1887 Masehi, Shalahuddin al-Ayyubi berangkat menuju al-Quds dan berhasil merebutnya kembali. Setelah itu, para khalifah Daulah bani Ayyubiyah memberikan perhatian terhadap Masjidil Aqsha.

Masjidil Aqsha (disebut juga dengan Baitul Maqdis dan al-Quda) sangat populer di Palestina dan dunia. Saat wilayah tersebut di bawah cenkeraman Yahudi-Israel. Masjidil Aqsha adalah satu dari tiga masjid yang menjadi tujuan perjalanan reliqi karena disunnahkan mendatangi dan berziarah ke sana.

Kota tempat Masjidil Aqsha berdiri disebut kota al-Quds, kaum Yahudi menyebutnya Yerusalem atau Orshalim. Sebuah nama berbahasa Kan’an Arab yang mereka ubah menjadi Orsalim. Sama halnya mereka mengubah Birsyabi dari yang semula Bi’r as-Sab’.

Masjidil Aqsha merintih dan meminta belas kasih dunia, semenjak Yahudi-Israel merampas dan menjajah al-Quds pada tahun 1967 Masehi. (*)

 

 

Berita Terkait