Seringnya Selfie Mengidap Gangguan Mental, Benarkah?

Selfie. Kata ini semakin ramai dipakai sebagai hashtag di situs jejaring sosial seperti Instagram, Path, dan Facebook. Hashtag ini biasanya disertai foto diri si pemilik akun.

Kata selfie semakin banyak dipakai seiring kehadiran gadget yang dilengkapi dengan kamera depan, sehingga memudahkan pengguna memotret dirinya sendiri. Bahkan, saking populernya kata ini, pada November 2013, Kamus Bahasa Inggris Oxford mengumumkan kata selfie sebagai ‘kata paling banyak dipakai tahun ini’.

Namun, sebuah studi yang dilakukan oleh J. Fox dan M.C. Rooney yang diterbitkan di jurnal psikologi Personality and Individual Differences pada 2015 menganalisis hubungan antara hobi mengunggah foto selfie dan menyunting foto terhadap kepribadian seseorang.

Hasilnya, seseorang yang terlalu gemar mengedit foto selfie-nya dan mengunggahnya ke media sosial, kemungkinan besar mengalami setidaknya satu dari tiga gangguan kejiwaan, yaitu; narsisisme, psikopatik, dan objektifikasi diri. Ketiganya dikenal dengan istilah Dark Triad.

Narsisisme berarti perilaku egosentris yang terlalu ekstrim dan menganggap dirinya paling superior dibandingkan orang lain. Penderita penyakit kejiwaan ini memiliki kebutuhan kuat untuk dipuja-puja orang lain sebagai bentuk pengakuan diri.

Psikopatik adalah penyakit psikologis yang ditandai dengan impulsivitas dan kurangnya empati terhadap orang lain. Sementara itu, objektifikasi diri adalah tendensi untuk memandang tubuh sendiri sebagai obyek yang bernilai atau berdaya tarik seksual tinggi.

Dalam studinya, Fox dan Rooney menggunakan 1.000 responden antara usia 18-40 tahun. Mereka diminta menjawab pertanyaan seputar Dark Triad dan tendensi objektifikasi diri. Mereka ditanya berapa kali mengambil foto selfie dalam sehari.

Mereka juga ditanya berapa banyak foto selfie yang diunggah ke media sosial dalam sepekan terakhir. Tidak hanya itu, mereka ditanya berapa banyak foto lain yang mereka unggah ke internet dan berapa lama mereka menghabiskan waktu di medsos setiap harinya.

Para responden diminta menilai dirinya sendiri dan berterus terang tentang seberapa sering mereka menggunakan aplikasi penyunting foto (seperti cropping, filtering, dan retouching) sebelum mengunggah foto selfie-nya ke media sosial.

Hasilnya, kebanyakan orang yang gemar berlama-lama di medsos dan menggunakan aplikasi penyunting foto cenderung terasosiasi dengan penyakit narsisisme dan objektifikasi diri. Adapun, mereka yang keranjingan mengunggah foto selfie lebih terkait erat dengan penyakit narsisisme dan psikopatik.

“Para penderita narsisisme cenderung pamer selfie dan berupaya keras untuk terlihat maksimal dalam foto-foto selfie mereka. Menariknya, orang yang terlalu sering mengunggah foto selfie tanpa diedit memiliki kecenderungan psikopatik,” ungkap Fox dalam jurnalnya.

Alasannya, lanjut Fox, orang dengan gejala psikopatik bertendensi untuk memiliki pengendalian diri yang lemah. Sehingga, mereka cenderung tidak terlalu tertarik mengedit fotonya sebelum diunggah.

Sebaliknya, orang narsisistik sangat self aware, sehingga mereka sangat ekstra hati-hati dengan foto diri yang akan diunggahnya ke medsos. Mereka sangat berhati-hati terhadap representasi atau pencitraan dirinya di hadapan publik.

Di lain pihak, penderita objektifitas diri cenderung memiliki harga diri (self esteem) yang rendah. Mereka lebih jarang mengunggah foto ke medsos karena selalu merasa tidak puas dengan penampilannya. Gangguan mental ini lebih banyak diderita oleh perempuan.

Pendiri ESQ Leadership Center, Ary Ginanjar Agustian, mengungkapkan 52 persen dari pengguna medsos di Indonesia mengunggah foto selfie yang tidak asli alias hasil suntingan. Kebanyakan membuat kulit tampak lebih putih dan hidung lebih mancung. (*)