Siapa Dirugikan Golput: Jokowi atau Prabowo? Begini Temuan LSI Denny JA

Ilustrasi. Twitter Denny JA

Peneliti Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, Ikrama Masloman, memprediksi angka golput akan meningkat di pemilihan presiden 2019. Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA menyebutkan salah satu faktor yang membuat pemilih tidak menggunakan hak pilihnya atau golongan putih (golput) dikarenakan minimnya informasi terkait Pemilu.

Mengutip rilis Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA berjudul Siapa Dirugikan Golput: Jokowi atau Prabowo? Salah satu temuan survei LSI Denny JA pada akhir Februari 2019, yang dilakukan pada tanggal 18-25 Februari 2019 melalui face to face interview menggunakan kuesioner. Survei menggunakan metode multistage random sampling dengan 1200 responden dan margin of error sebesar +/- 2,9 %. Survei dilaksanakan di 34 propinsi di Indonesia dan dibiayai sendiri oleh LSI Denny JA.

Dalam survei tersebut, elektabilitas Jokowi-Ma’ruf sebesar 58,7% sementara Prabowo-Sandi sebesar 30,9%. Sebesar 9,9% menyatakan belum menentukan pilihan atau merahasiakan pilihannya sementara 0,5% adalah suara tidak sah.

Pada Pilpres 2014 silam, angka golput sebesar 30,42%. LSI Denny JA lalu menganalisis jika angka golput Pilpres 2019 sama dengan Pilpres 2014, maka siapa yang dirugikan? Pemaparan ini disampaikan LSI Denny JA pada Selasa (19/3/2019).

Analisis dibuat per segmen yaitu minoritas, wong cilik, milenial, emak-emak, pemilih terpelajar, dan pemilih muslim. Penyebab golput yang dianalisis berbeda-beda, mulai dari kurang informasi, tidak ingin kehilangan upah harian, apatisme politik, masalah administrasi, protes politik, isu keamanan, hingga merasa sudah menang.

Terkait penyebab golput karena kurangnya informasi, Ikrama Masloman mengatakan berdasarkan data yang dihimpun, pihaknya menemukan sebesar 65,3 persen masyarakat yang tahu kapan pemilu akan diselenggarakan, sedangkan 29,5 persen tidak mengetahuinya.

Selain itu, LSI juga menemukan sebesar 75,8 persen masyarakat yang langsung menjawab dengan benar tanggal diselenggarakannya Pemilu 2019, dan sebanyak 24,2 persen yang tidak menjawab dengan benar.

“Nah kalau kami tarik agregatnya, dari yang mengetahui 65,2 persen dan yang mengetahui dengan tepat pemilu 17 April adalah 75.8 persen,” ujarnga saat dikant LSI, Rawamangun, Jakarta Timur, Selasa (19/3/2019).

Ikrama juga mengatakan responden yang mengetahui dan menyebutkan tanggal pemilu dengan benar hanya 49,4 persen.

“Artinya pemilih kita belum terinformasi dengan baik tentang Pemilihan Presiden,” kata Ikrama.

Selanjutnya berdasarkan data golput yang terdapat di Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada tiga pemilu terakhir, angka golput terus meningkat. Yaitu angka golput pada Pemilu 2004 sebesar 23,3 persen; pada 2009 sebanyak 27,45 persen; dan terakhir 2014 naik sebanyak 30.42 persen.

Sehingga kata Ikrama, LSI Denny JA memprediksi angka golput tersebut berpotensi terus naik. Tak menutup kemungkinan juga pada Pemilu 2019.

“Pada pertarungan Jokowi dan Prabowo yang bertanding pertama kali, itu pun tidak mampu menekan angka golput, sehingga golput menjulang lumayan tinggi jadi 30,42 persen. Artinya golput pas pilpres trennya selalu naik,” terangnya.

Oleh karena itu Ikrama meminta kepada Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk terus melakukan sosialisasi agar angka golput tidak terus meningkat.

“Masalahnya gimana sosialisasi bagi penyelenggara bisa maksimal,” ujarnya.

Ada analisis sendiri dari LSI Denny JA soal segmen pemilih muslim. Berdasarkan survei LSI Denny JA, Jokowi-Ma’ruf masih lebih unggul daripada Prabowo-Sandiaga dengan selisih di atas 15% di segmen ini.

“Namun demikian pemilih muslim tidak monolitik. Misalnya dari sisi religius belonging, pemilih muslim terbagi menjadi muslim yang merasa dekat dengan NU, Muhammadiyah, Persis, PA 212, FPI dan lain-lain,” demikian keterangan dari LSI Denny JA.

LSI Denny JA memprediksi bila golput banyak terjadi di pemilih Muslim yang merasa bagian dari FPI, HTI, jaringan kultural PKS, maka yang akan dirugikan adalah pasangan Prabowo-Sandi. “Namun golput di segmen pemilih muslim yang berafiliasi dengan FPI, PA 212 dan lainnya, diduga kecil,” demikian keterangan dari LSI Denny JA.

“Namun jika golput banyak terjadi di pemilih muslim yang merasa dekat dengan ormas di luar FPI, PA 212 dan lainnya, misalnya NU, maka yang dirugikan adalah pasangan Jokowi-Maruf,” demikian keterangan dari LSI Denny JA.

Kesimpulannya, LSI Denny JA memprediksi bahwa meski Jokowi-Ma’ruf menang telak di survei tapi jika terjadi golput yang masif di pendukungnya sementara pendukung Prabowo militan, maka hasil akhirnya berubah.

“Jokowi-Ma’ruf dirugikan jika golput banyak terjadi di segmen minoritas, milenial, wong cilik, dan Muslim moderat (NU, dan lain-lain). Prabowo-Sandi dirugikan jika Golput banyak terjadi di segmen kalangan terpelajar dan Muslim dari FPI, HTI, jaringan PKS, dan lain-lain,” demikian keterangan dari LSI Denny JA. (*)