Sinergi Tiga Unsur Pendidikan

Indah Yulianti, S.Pd, seorang guru di SMAN 9 Kota Cirebon.

Apa yang ada dalam kepala kita jika mendengar kata “pendidikan”? Salah satu jawaban pastinya adalah sekolah. Sebuah bangunan sederhana atau megah yang didalamnya terdapat aktivitas akademisi. Gambaran tentang anak-anak didik yang belajar pada masa tertentu dengan didampingi para guru. Mungkin dalam pikiran kita, hanya sesederhana itu.
Banyak definisi para ahli dan praktisi tentang pendidikan.

Menurut Ki Hajar Dewantara (Bapak Pendidikan Nasional, 1889-1959), Pendidikan dapat berarti daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran, dan jasmani anak-anak selaras dengan alam dan masyarakatnya. Secara umum pendidikan memang berorientasi pada perubahan perilaku seseorang (siswa) sebagai subyek pendidikan, baik itu pendidikan formal, maupun informal.

Terdapat beberapa unsur pendidikan yang saling terkait satu sama lain. Diantaranya adalah orang tua, guru, dan siswa sendiri sebagai subyek dan peserta didik. Keberhasilan seorang siswa dalam menjalani pendidikannya, tak lepas dari peran orang tua dan guru di sekolah.

Pada dasarnya, orang tua adalah guru di rumah, dan guru adalah orang tua di sekolah. Pemahaman seperti ini penting bagi orang tua dan guru, agar mampu mendidik dan memfasilitasi seorang anak dalam menyelesaikan tumbuh kembangnya dengan cemerlang.
Akhir-akhir ini, seringkali terdengar tentang perilaku buruk seorang anak terhadap orang tua dan gurunya.

Bahkan terjadi pula perilaku buruk orang tua terhadap guru anaknya di sekolah. Bahkan yang mencengangkan, hasil survei yang dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementrian Kesehatan, menunjukkan 650 dari 10.350 siswa SMP dan SMA di seluruh Indonesia punya keinginan bunuh diri http://www.beritasatu.com

Terlepas dari pokok persoalan sebenarnya, seluruh hal dan keinginan buruk tersebut di atas, bisa terjadi karena kurangnya sinergi antara anak, orang tua, dan guru, sebagai unsur utama pendidikan. Pola hubungan yang kurang harmonis antara ketiganya dapat mengakibatkan timbulnya prasangka dan konflik, yang pada akhirnya berdampak buruk terhadap perkembangan perilaku anak.

Walaupun itu bukan satu-satunya penyebab, pola hubungan dan krisis komunikasi ketiga unsur pendidikan ini merupakan penyebab tertinggi kasus perilaku buruk siswa. Karena lingkungan terdekat seorang anak adalah orang tuanya. Jika anak tersebut terdaftar sebagai siswa di sebuah sekolah, orang terdekat berikutnya adalah gurunya.

Orang tua cenderung berharap sangat banyak pada guru disekolah untuk pertumbuhan dan pembenahan perilaku/akhlak anaknya. Ketika memutuskan menyekolahkan sang anak pada sebuah sekolah, orang tua secara total akan membebankan seluruh “pengasuhan” anak pada pola pendidikan sekolah. Orang tua merasa sudah selesai dengan hanya membayar biaya-biaya pendidikan dan iuran fasilitas sekolah.

Sementara di sisi lain, guru juga menuntut orang tua untuk terus menerus peduli pada perkembangan perilaku dan belajar siswa, tanpa memahami betul latar belakang siswa dalam keluarganya. Ketika siswa berperilaku buruk dan menyimpang, seringkali mengambil kesimpulan sepihak tanpa konfirmasi realitas keadaan orang tuanya.

Apalagi pada tingkat sekolah menengah, dengan dalih kemandirian siswa, guru seringkali mengabaikan pemahaman tentang perlunya komunikasi intens antara orang tua, guru dan siswa.

Keadaan yang saling mengandalkan, saling membebankan dan kurang dukung seperti ini yang sering menimbulkan siswa merasa “bingung” menempatkan posisi sebagai manusia unik yang mudah dipahami dan dapat diarahkan. Sehingga pada kondisi tertentu, keadaan kebingungan itu dapat membuat seorang siswa kemudian mencari jati diri yang salah dan menemukan sosok teladan lain, yang jauh dari idealisme orang tua dan guru. Parahnya lagi jika itu memicu perilaku dan akhlak buruk siswa.

Salah satu contoh yang pernah penulis temui pada kasus siswa bermasalah kehadiran dan perilaku buruk, orang tua ternyata terlalu sibuk dengan segala urusan bisnis dan tidak mengetahui jika anaknya ternyata bermasalah disekolah, lalu mencari “perhatian” yang salah pada tempat dan orang yang salah pula.

Ketika orang tua dikonfirmasi keadaan anaknya, malah menyalahkan pihak sekolah sebagai lembaga pendidikan yang dianggap paling bertanggung jawab terhadap kondisi pendidikan dan perkembangan perilaku anaknya.

Hal ini mungkin bukan cerita baru dalam dunia pendidikan. Tapi kenyataan ini hanyalah kasus kecil dari ribuan kasus serupa yang terjadi akibat kurang harmonisnya hubungan antara orang tua dengan siswa, serta orang tua dengan guru sebagai pendidik di sekolah.

Aktivasi buku penghubung
Hubungan yang harmonis, hingga tercipta sinergi yang baik antara orang tua, guru, dan siswa sebenarnya dapat dicontoh saat pendidikan anak usia dini, masa TK dan Kelompok Bermain (Kober). Pendampingan yang utuh menyeluruh.

Pada sekolah fullday, pendampingan ini bisa terlihat dari aktivasi buku penghubung antara orangtua dan guru. Memang tidak bisa disamakan pendidikan anak usia dini dengan pendidikan menengah, karena kemandirian dan tingkat kematangan emosional yang berbeda. Namun pada beberapa hal, bisa dicontoh demi keselarasan sinergi antar unsur pendidikan tersebut.

Salah satu yang dapat diadopsi dari pendidikan anak usia dini adalah adanya aktivasi buku penghubung antara orangtua dan guru disekolah (wali kelas). Buku penghubung tidak hanya berupa buku raport laporan hasil belajar siswa, tapi aktivasi buku tersebut dapat berupa penanaman nilai-nilai perilaku dan akhlak siswa, baik di sekolah maupun dirumah.

Buku penghubung dibuat di awal siswa masuk ke jenjang sekolah tertentu. Untuk optimalisasi penanaman nilai-nilai perilaku, buku penghubung dapat dibuat sederhana dengan tabel-tabel yang berisi nilai-nilai dasar perilaku. Nilai-nilai ini dirinci secara fleksibel sesuai dengan karakter siswa yang akan dibentuk dan dipertahankan.

Tentunya berdasarkan latar belakang kebiasaan, pola asuh dalam keluarga, serta dasar spiritual setiap individu. Dengan bentuk tabel dan ceklist diharapkan buku penghubung ini akan “mendampingi” siswa selama menjalani proses pendidikan di sekolah tersebut.

Peran orang tua dan guru dalam buku penghubung ini dapat berupa motivator dan fasilitator bagi siswa. Sehingga siswa tetap merasa terperhatikan serta diberi kepercayaan untuk tetap mandiri dan tumbuh menjadi pribadi yang baik dan berkarakter. Secara teori dan realita, buku penghubung memiliki manfaat yang efektif. Keberadaannya menjadi sinergi guna menjembatani komunikasi yang baik antara orang tua dan guru. Buku penghubung juga memantau sikap, perilaku dan perkembangan siswa.

Pertanyaannya kemudian adalah, bagaimana dengan pola kehidupan masyarakat ekonomi bawah? Kondisi orang tua dengan penghasilan terbatas yang membuat siswa terbiasa dengan kehidupan bebas, bahkan keras? Akibatnya, hubungan harmonis antar keluarga sangat jauh dari harapan. Begitupun siswa yang terjerumus dalam pola hidup negatif atau jalanan? Buku penghubung mungkin tidak banyak terasa manfaatnya. Bahkan mungkin buku tersebut tidak akan sampai terbaca, apalagi diisi oleh orang tua.

Sistem zonasi yang diterapkan dunia pendidikan sekarang bisa menjadi solusi permasalahan ini. Sistem zonasi berarti domisili siswa dengan sekolah tidak terlalu jauh, atau terjangkau. Hal ini memungkinkan sekolah menerapkan jadwal kunjung orang tua, wali kelas dan BK dalam rentang waktu terjadwal. Sebulan sekali misalnya. Tujuannya mencari, menjalin, memahami, dan memberi solusi langsung dari situasi kondisi keseharian orang tua dengan siswa, perihal masalah ekonomi yang mereka hadapi.

Masalah yang kemudian menjadikan hubungan keluarga ini tidak terarah. Jadwal kunjung langsung akan menjadi payung pemantau karakter siswa. Tentu saja jadwal kunjung langsung ini berujung pada pengisian buku penghubung yang telah disediakan sebelumnya.

Terakhir, agar buku penghubung ini menjadi program sekolah maka sosialisasi penggunaan buku penghubung dan kegunaannya harus dibicarakan langsung kepada tiap orang tua, wali juga siswa ketika kali pertama mereka diterima atau masuk sekolah. Dengan demikian, pihak sekolah, orang tua, juga siswa bisa saling paham dan mengetahui apa yang akan terjadi. Semoga jalinan sinergi dunia pendidikan tercipta, nyata adanya. (*)

Indah Yulianti, S.Pd, adalah seorang guru di SMAN 9 Kota Cirebon.