SMA Widya Utama Blusukan Cari Siswa sampai ke Talun dan Suranenggala

Kampus SMA Widya Utama Cirebon.FOTO:DOK.RADARCIREBON.COM

CIREBON-Setiap tahun ajaran baru, muncul isu SMA Widya Utama bubar. Termasuk di Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) kali ini. Sekolah di Jl Ksatria itu, kembali diterpa kabar bakal ditutup. Lantaran muridnya bisa dihitung jari.

Kendati di lapangan faktanya demikian. Dedi Nurjaman, Kepala SMA Widya Utama menegaskan bahwa sekolah tetap berjalan. Juga tetap membuka penerimaan siswa baru. Namun diakui sedikit banyak isu itu membuat pihaknya dirugikan. “Terus terang, isu ini sangat merugikan kami,” ujarnya.

SMA Widya Utama sesungguhnya pernah jadi sekolah favorit. Meski sekolah swasta, tapi tidak kalah dengan sekolah negeri. Sampai bermunculannya banyak sekolah yang membuat persaingan kian ketat.

Sistem zonasi dalam PPDB, yang mestinya menjadi angin segar bagi sekolah sekolah swasta nyatanya tidak banyak membantu. Sekolah swasta yang harus berjuang keras untuk mendapatkan siswa. Tidak bisa mengharapkan “luberan” dari sekolah negeri. “Kami sampai harus blusukan untuk terus menjaga eksistensi. Kalau tidak begitu, bisa kehilangan siswa,” tuturnya.

Dalam 5 tahun terakhir, SMA Wisya utama mengalami kemerosotan angka pendaftar. Pihaknya bahkan harus mendatangi satu persatu siswa hingga di wilayah pinggiran kota. Sebab, siswa di dalam kota relatif sudah tersedot dengan sistem zonasi atau masuk ke sekolah swasta lainnya. “Saya harus door to door cari siswa sampai ke Talun, Suranenggala,” katanya.

Meski secara umum penerimaan siswa untuk SMA belum dilakukan, namun beberapa persiapan telah dilakukan. Misalnya dengan membuat brosur serta menempatkan sejumlah personel di sekolah dan juga tokoh masyarakat.

Diperkirakan Juni nanti, pihaknya sudah mulai menerima siswa. Sementara ini, target yang dipasang cukup  realistis yakni, 1 sampai 2 rombel dengan masing-masing berisi 30 siswa. Dalam sistem data pokok pendidikan (dapodik) terbaru, jumlah siswa SMA Widya Utama tercatat berjumlah 71 siswa. Yang terdiri dari 45 siswa dan 26 siswi. Jumlah tersebut terdiri dari 15 siswa reguler, 4 siswa kelas inklusif serta sisanya adalah kelas sekolah terbuka.

Kelas sekolah terbuka berasal dari Talun dan Suraneggala. Sementara pada pelaksanaan UNBK lalu, SMA Widya utama berhasil meluluskan 6 orang siswa. Dengan jumlah siswa yang sedikit itu, Dedi mengakui, proses belajar mengajar cukup sulit.

Misalnya untuk kegiatan diskusi kelompok. Para guru kesulitan membagi siswa. Atau misalnya membentuk tim untuk olahraga seperti sepak bola atau bola voli yang membutuhkan anggota cukup banyak juga tidak tidak bisa dilakukan. Tapi keuntunganya juga ada. Dengan siswa yang sedikit, guru juga lebih intens dan fokus memberikan perhatian kepada siswa. “Jadi ini seperti les privat,” jelas pria yang menjabat kepala sekolah sejak tiga tahun lalu itu.

Dulu, SMA Widya Utama merupakan salah satu sekolah favorit di Kota Cirebon. Puncaknya di tahun 1990-2000-an. Pada era tersebut, Sekolah Widya Utama memiliki jumlah siswa mencapai 1.500. Pihak yayasan juga membuka 33 rombel, di mana masing-masing kelas terdiri dari 11 rombel. Bahkan di masa kejayaanya tersebut, yayasan juga membangun SMP dan juga SMK.

Berbagai prestasi juga telah diraih. SMA Widya Utama menjadi salah satu favorit masyarakat Kota dan Kabupaten Cirebon ketika itu. Bahkan pihak sekolah juga sempat membuka program pertukaran pelajar dengan sekolah dari luar negeri.

Dedi menuturkan, berdirinya Sekolah Widya Utama dirintis oleh sekitar 50 guru dari SMAN 1 Cirebon. Ketika itu, banyak warga yang tidak bisa bersekolah di sekolah di SMAN 1 lantaran terbatasnya jumlah kelas atau rombel. Untuk menyikapi tingginya minat masyarakat, akhirnya dibuka SMA 1 Petang.

Pada awalnya SMA 1 Petang masih menginduk di SMAN 1 Cirebon. Gedung sekolahnya pun masih menggunakan gedung SMAN 1 Cirebon. Hingga akhirnya animo masyarakat terhadap SMA 1 Petang cukup tinggi dan menyamai peminat di SMAN 1 Cirebon. Lantaran bukan resmi sebagai sekolah negeri, pihak yayasan lantas membuka sekolah mandiri dengan nama SMA Widya Utama. Setelah itu, tiga tahun kemudian pindah ke Kelurahan Kesambi.

Namun dalam belasan tahun terakhir ini, atau lebih tepatnya setelah ada otonomi daerah kondisinya cukup mengkhawatirkan. Aturan pembatasan rombel bagi sekolah negeri yang sebelumnya dibatasi hanya 6 rombel untuk masing masing kelas di hapus. Sekolah negeri mulai gencar membuka rombel baru. Hal tersebut yang membuat nasib sekolah swasta menghadapi permasalahan kekurangan murid.

Selain itu, dengan banyaknya sekolah baru yang berdiri di jenjang SMA sederajat membuat sekolah swasta yang telah lama berdiri sulit untuk mendapatkan murid. Dirinya juga mengaku heran dengan pemerintah yang begitu mudah memberikan izin untuk sekolah baru. “Kita sendiri optimis. Tidak patah semangat dan terus berupaya dengan mendekati SMP swasta untuk menyalurkan siswanya ke SMA Widya utama,” lanjutnya. (awr)