Soal Galian C, Kiai Miftah Minta Jangan Ada Deal di Belakang

Beginilah kondisi di lokasi galian c Argasunya. FOTO:DOK.RADARCIREBON.COM
Beginilah kondisi di lokasi galian c Argasunya.FOTO:DOK.RADARCIREBON.COM

CIREBON-Tokoh masyarakat Kelurahan Argasunya, sekaligus salah satu Pengasuh Ponpes Benda Kerep KH Muhammad Miftah, sepakat dengan ditutupnya aktivitas galian c yang menggunakan alat berat.

Pasalnya, tidak bisa dipungkiri lingkungan bertambah rusak. Selain bertentangan dengan undang-undang negara, dalam fiqih juga dilarang untuk merusak lingkungan. “Penghentian operasional alat berat adalah harga mati, tidak bisa ditawar lagi. Mudah-mudahan pemerintah dan wakil rakyat istikamah menjalankan kebijakan ini,” ujar Kang Miftah –sapaan akrabnya-.

Dia pun beraharap tidak ada tawar-menawar atau deal di belakang, dengan alasan apapun. Juga aparat kepolisian agar serius menindaklanjuti penyegelan yang telah dilakukan. Namun demikian, pihaknya meminta pengecualian untuk penggali manual dari masyarakat sekitar.

Karena ratusan orang ini masih bergantung mata pencahariannya dari menggali secara manual. “Ya untuk yang manual, saya minta pengecualian. Sampai ada solusi dari pemerintah untuk memberikan pekerjaan yang baru buat mereka,” ungkapnya.

Pekerjaan untuk masyarakat ini disesuaikan dengan kemampuan mereka yang mengandalkan tenaga. Seperti membuka perkebunan buah-buahan mangga, durian dan lainnya. Sehingga nantinya bisa dijadikan destinasi argo wisata.

Hal ini akan menjadi tambahan tempat wisata baru di Kota Cirebon. Tidak hanya mengandalkan wisata keraton saja, tapi wisatawan juga bisa berekreasi ke Argasunya karena ada perkebunan buah yang bisa dipetik langsung.

Sedangkan untuk kaum wanitanya, diusulkan diberikan pelatihan industri kecil rumah tangga. Bisa membuat makanan ringan, kerajinan dan keterampilan yang dapat mendatangkan pendapatan tambahan bagi keluarganya.

“Kalau ini bisa berjalan, secara bertahap ketergantungan masyarakat kepada galian c akan berkurang. Dan pemerintah bisa berkonsentrasi lebih untuk penataan selanjutnya tanpa ada alasan karena masyarakat masih ada di galian c,” jelasnya.

Miftah juga mengapresiasi rencana pemkot untuk menjadikan kawasan Argasunya sebagai tempat wisata religi. Dari keberadaan puluhan pesantren dan masyarakatnya yang islami, ini bisa sebagai nilai tambah untuk menarik wisatawan. Tinggal nawaitu dari pemerintah, sebagai masyarakat pihaknya siap membantu. “Konsepnya bagus, tapi jangan hanya sekedar konsep saja, realisasikan di lapangan, kita siap bantu,” pungkasnya. (gus)