Sri Agustini Berjuang Menghapuskan Diskriminasi Difabel

Sri Agustini saat dijumpai Radar Cirebon di Ruang Adipura Balaikota Cirebon, belum lama ini. FOTO:ABDULLAH/RADAR CIREBON
Sri Agustini saat dijumpai Radar Cirebon di Ruang Adipura Balaikota Cirebon, belum lama ini.FOTO:ABDULLAH/RADAR CIREBON

CIREBON-Penyandang disabilitas masih kerap mendpatkan diskriminasi. Meski tidak sedikit mereka yang berkebutuhan khusus justru dapat berprestasi di berbagai bidang. Seperti Sri Agustini. Dia pernah menorehkan prestasi sebagai atlet nasional.

Bicaranya lugas. Ia punya misi memperjuangkan kesetaraan untuk penyandang disabilitas. Sri Agustini bukan orang baru untuk urusan ini. Dia adalah ketua Aliansi Perempuan Disalibitas dan Lansia (APDL). Sebelumnya juga pernah berkecimpung dalam Yayasan Penyandang Anak Cacat (YPAC).

Dia ingin membuktikan bahwa dengan kondisi fisiknya, tidak ada halangan berprestasi. Saat aktif menjadi atlet, pada 1984 ia berlaga di Pekan Olahraga Nasional (PON) yang dihelat di Kota Solo. Di ajang itu, dia mendapat medali perunggu kelas lower. “Ini prestasi yang sangat berkesan buat saya. Karena saya mewakili Jawa Barat dan bisa dapat medali,” katanya.

Di waktu itu, Sri memandang aroma diskriminasi tidak tercium di pelaksanaan PON. Meski penyandang disabilitas memiliki ajang terpisah, tetapi masih menggunakan nama PON. Tidak dibedakan seperti sekarang ini, yang menggunakan akronim Peparnas (Pekan Paralympic Nasional).

Karenanya, Sri sedih dengan adanya pembedaan jenis pekan olahraga seperti PON. Begitu juga Asian Games yang menggunakan nama Paragames. “Dari penamaan saja, ini sudah menunjukkan adanya diskriminasi itu,” tuturnya.

Ia pun menyayangkan di ajang khusus itu, perhatian tidak sama besarnya. Misal di PON dan Peparnas. Animo penontonnya jauh berbeda. Kemudian waktu pelaksanaannya juga berbeda. Mestinya, selain menggunakan brand yang sama, juga pelaksanaannya di waktu yang bersamaan. “Bagi saya pembedaan itu tetap diskriminasi terhadap penyandang disabilitas ,” katanya.

Selain PON, prestasi lain telah ditorehkan Sri tahun 2010. Dia menjadi Atlet porda Jabar di Bandung untuk cabang olah raga bowling dan dirinya berhasi meraih medali emas. Kemudian tampil di lari 400 meter meraih medali perunggu.

Saat ini Sri berkecimpung di komunitas disabilitas. Sudah 38 tahun dia ikut berjuang lewat menyuarakan beragam aspirasi. Di Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), Sri juga mengabdi untuk mengurus penyandang disabilitas. (abd)

[adrotate banner="13"]

Berita Terkait