Studi Terbaru Sesar Lembang Aktif Berpotensi Gempa Besar?

Sesar Lembang di Bandung ternyata berpotensi menghasilkan gempa berkekuatan 6,5 hingga 7 magnitudo. Hal itu dipaparkan dalam hasil riset terbaru soal Sesar Lembang yang telah dipublikasikan di jurnal internasional Tectonophysics pada 13 Desember 2018.

Riset tersebut disusun oleh Mudrik Rahmawan Daryono dan Danny Hilman Natawidjaja dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Benjamin Sapiie dari Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Phil Cummins dari Australia National University (ANU).

Dalam makalah ilmiah di jurnal tersebut dijelaskan bahwa Sesar Lembang adalah patahan utama di Jawa Barat yang mengitari tepi utara Kota Bandung. Sesar ini tepat berada di selatan Gunung Tangkuban Perahu, salah satu gunung api aktif di Indonesia.

Dalam riset tersebut para peneliti menggunakan analisis geomorfik untuk memahami kondisi dan pergerakan sesar aktif yang mengelilingi Kota Bandung ini. Hasilnya, peneliti menemukan bahwa sesar ini memiliki panjang 29 kilometer dan laju pergeseran 1,95 milimeter hingga 3,45 milimeter per tahunnya.

“Dengan panjang 29 km, ini menunjukkan bahwa Sesar Lembang bisa menghasilkan gempa bumi 6,5-7,0 dengan waktu pengulangan 170-670 tahun,” tulis para peneliti dalam makalah tersebut menyimpulkan.

Mudrik Rahmawan Daryono, peneliti geoteknologi LIPI yang menjadi peneliti utama dalam riset, menegaskan bahwa riset tersebut “membuktikan kalau Sesar Lembang itu jelas pasti aktif.”

Menurut para peneliti dalam makalah ilmiah tersebut, “Sesar Lembang menunjukkan bukti geomorfik yang jelas atas aktivitas terbarunya dan telah lama dianggap aktif.”

Kehadiran sesar di sebuah kawasan bisa berpotensi gempa. Sesar adalah retakan pada lempeng kerak yang bergeser. Kerak bergeser karena terapung di atas mantel bumi (batuan liat dan cair terdiri dari campuran magnesium dan besi). Lapisan ini bergerak perlahan sehingga terpecah-pecah dan bertabrakan satu sama lain.

Selain karena tekanan, sebuah sesar yang bergerak dipengaruhi oleh aktivitas tektonik. Hasil kajian terbaru tahun 2017 menunjukkan laju pergeseran sesar Lembang sekitar 3,0- 5,5 mm/tahun. Angka ini bertambah dari prediksi tahun 2011 yang menyebut laju pergeserannya sekitar 2,0 – 4,0 mm/tahun.

Selain itu, riset terbaru dari Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI menemukan bahwa panjang sesar ternyata 29 kilometer, bukan 22 kilometer sebagaimana acuan peneliti sebelumnya.

Hasil riset ini tak lepas berkat pemetaan citra profil morfologi dengan resolusi tinggi lewat penggunaan LIDAR (Light Detection and Ranging). Dari data ini, dengan hitung-hitungan formula ahli paleoseismologi, diperolehlah data empiris soal potensi energi seismik yang dihasilkan saat sesar Lembang aktif. Paleoseismologi adalah studi batuan kuno dan sedimen untuk bukti peristiwa seismik, seperti gempa bumi dan tsunami, dari zaman sebelum catatan disimpan.

“Jika segmen sepanjang 29 kilometer ini bergerak serempak, kekuatannya berkisar 6,5 – 7 skala Richter,” ujar Dr. Mudrik Rahmawan Daryono, peneliti dari Geoteknologi LIPI.

Pertanyaan mendasar yang seringkali diajukan: Kapan sesar Lembang aktif menjadi gempa besar?

Upaya mencari jawaban ini sudah lama dilakoni. Penelitian sesar Lembang bukan hal baru. Ahli Bumi alias geolog asal Belanda, R.W. van Bemmelen, sudah melakukannya pada 1940.

Riset sesar Lembang disertakan dalam The Geology of Indonesia (1949), kitab babon van Bemmelen bagi para geolog Indonesia. Ia menyebut kali terakhir sesar Lembang aktif pada 100.000 tahun lalu, bertepatan pembentukan kaldera Gunung Sunda. Pada 1996, penelitian Jan Nossim di Kampung Panyairan, Cihideung, menunjukkan kali terakhir sesar Lembang aktif pada 24.000 tahun lalu.

Sebuah sesar disebut aktif jika ia pernah bergeser pada waktu Holosen—dimulai 11.500 tahun lalu hingga sekarang. Jelas, jika mengacu penelitian van Bemmelen dan Nossim, sesar Lembang tidak masuk dalam kategori sesar aktif. (*)