Suarakan Tolak RUU Permusikan

TOLAK-RUU-PERMUSIKAN
TOLAK RUU: Puluhan musisi dan grup band yang tergabung dalam Gerakan Musisi Indie Majalengka menolak RUU Permusikan, Minggu (10/2). FOTO: ISTIMEWA/RADAR MAJALENGKA

Koalisi Nasional Tolak RUU Permusikan (KNTLRUUP) merilis sebuah album kompilasi bertajuk Bersama Bersuara. Album itu diluncurkan, Kamis (14/3), lewat bersamabersuara.bandcamp.com.

Album kompilasi Bersama Bersuara merupakan subdivisi kerja dari KNTLRUUP yang digerakkan secara sukarela untuk melantangkan tujuan mengawal dibatalkannya RUU Permusikan.

Album dipublikasikan dengan bebas unduh/bebas streaming dan nonprofit.

Secara organik diorganisir dengan melibatkan pelaku komunitas musik lokal di Indonesia, sebagai simpul jejaring yang mensosialisasikan dan mengajak rekan-rekan pemusik di kotanya untuk terlibat secara aktif dan partisipatoris.

Mereka di antaranya berasal dari Makassar, Padang, Salatiga, Sungguminasa, Manado, Aceh, Pekanbaru, Medan, Jogjakarta, Palopo, Pekalongan, Palangka Raya, Bandung, Bogor, Pontianak, Ambarawa, Jambi, Medan, Semarang, Jakarta, Bali, dan lainnya.

“Bekerja sama dan berbicara dengan karya, merebut peran, dan menyatukan suara untuk memperkuat jejaring nasional dari gerakan pendesak pembatalan Rancangan Undang-Undang Permusikan,” kata Dzulfikri Putra Malawi, perwakilan KNTLRUUP kepada jpnn.com, Kamis (14/3).

Album Bersama Bersuara direncanakan akan berkelanjutan berseri dengan lebih dari 100 partisipan. Terdiri dari grup/solo/duo dalam tiap volume yang dirilis mengikuti rentak irama pengawalan proses pembatalan RUU Permusikan sampai dicabut dari Prolegnas di Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.

Album kompilasi dimulai dengan merilis Bersama Bersuara Vol.1 yang menjadi awalan medium pemersatu suara dan menjadikan musik sebagai senjata.

Menyatukan nama-nama besar yang sudah cukup dikenal dalam kancah musik tanah air antara lain seperti Superman Is Dead, Mocca, Burgerkill, Toto Tewel, Bottlesmoker, Komunal, Scaller, serta berbagai grup/solo/duo musik dari komunitas lokal beragam kota di Indonesia.

Tujuannya yakni bersama mendorong gelombang kesadaran dalam menolak RUU Permusikan yang perjalanannya masih panjang untuk bisa dibatalkan.

Kenapa album kompilasi Bersama Bersuara bisa menjadi senjata dan kekuatan pendesak? Sebab tidak pernah sebelumnya pemusik se-Tanah Air disatukan dalam satu medium yang masif dengan tujuan yang sama.

Permasalahan akan RUU Permusikan juga masalah bagi komunitas musik lokal dari ujung Barat hingga Timur Nusantara. (jpnn)