Sungai Cipager Berubah Jadi Tempat Pembuangan Sampah

SUNGAI SAMPAH: Daerah Aliran Sungai (DAS) Cipager di Tengah Tani, Kabupaten Cirebon, berubah fungsi menjadi Tempat Pembuangan Sampah (TPS). Warga memanfaatkan sungai sebagai lokasi untuk membuang berbagai jenis sampah.FOTO: ILMI YANFAUNNAS/RADAR CIREBON

CIREBON – Daerah Aliran Sungai (DAS) Cipager di Kabupaten Cirebon, berubah fungsi jadi Tempat Pembuangan Sampah (TPS). Di Kecamatan Tengahtani tepatnya. Sampah numpuk di sepanjang Sungai Cipager. Warga desa menjadi penyumbang tumpukan sampah setiap harinya.

Nendro (55), warga desa setempat mengaku, warga terpaksa membuang sampah ke sungai, lantaran belum ada Tempat Pembuangan Sampah (TPS). Sementara, kondisi perumahan yang cukup padat, menjadi salah satu faktor sulitnya menyelesaikan persoalan sampah di rumah tangga.

“Sudah biasa warga buang sampah di Sungai Cipager. Kalau sudah penuh ya dibakar. Mau gimana lagi, kita gak punya TPS. Sementara, pemerintah daerah sendiri gak punya TPAS (tempat pembuangan akhir sampah),” ujar Nendro kepada Radar Cirebon, kemarin (8/10).

Menurutnya, yang membuang sampah bukan hanya warga Desa Kalibaru saja. Warga luar desa pun sama, ikut membuangnya di sungai. Kini, sampah pun menumpuk menjadi pemandangan yang tak asing lagi di sungai.

“Sekarang pemerintah desa sedang membuat tempat pembakaran sampah di tiga titik, supaya tidak ada lagi sampah yang dibuang ke sungai. Dan,” tuturnya.

Menurutnya, setiap musim kemarau sungai penuh dengan sampah. Sementara musim hujan, sampah bersih dari sungai, lantaran terbawa deras arus sungai. “Ya kondisinya seperti itu setiap tahun,” imbuhnya.

Terpisah, Kuwu Desa Kalibaru, Handy Riyanto mengungkapkan, tumpukan sampah di Sungai Cipager, kerap kali menimbulkan banjir. Ditambah, belum maksimalnya Tempat Penahan Tanah (TPT) di sekitar sempadan sungai. Meskipun sudah ada, panjangnya baru 52 meter saja. Padahal, kebutuhannya mencapai 800 meter untuk kedua sisi, yakni kanan dan kiri.

“Dampak dari itu, warganya yang mencapai 4 ribuan itu, seringkali terendam air. Khususnya, di RW 06 Pagebangan dan Blok Masjid,” ungkapnya.

Handy menjelaskan, sebenarnya tumpukan sampah di Sungai Cipager tidak sepenuhnya berasal dari warga Desa Kalibaru. Sebab, banyak warga di luar desa yang juga membuang ke Sungai Cipager. Kini, pihaknya sedang membuat alat pembakar sampah. “Kami sedang membangun pembakaran sampah ditempatkan di Blok Bebekan,” kata dia.

Lebih lanjut dia menyampaikan, wacananya pembangunan alat pembakar sampah selanjutnya akan ditempatkan di dua titik. Pembangunannya akan dilanjutkan di tahun 2020 nanti. Saat ini, alat pembakar sampah untuk meng-cover dua RW. Yakni RW 3 dan RW 4. Pada tahapan kedua nanti, disediakan untuk menampung sampah dari RW 1 dan RW 2.

“Ketika dua titik pembakar dampah sudah tersedia, bisa menyelesaikan persoalan sampah secara menyeluruh. Dan sungai bisa lebih tertata serta terbebas dari sampah,” paparnya.

Handy menambahkan, ketika semua sudah terbangun, pihaknya akan membuat aturan larangan membuang sampah di sungai. Saat ini, larangan itu belum dibuat karena belum ada alternatif lain. Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPAS) pun tidak ada.

“Kalau semua sudah ada, kita buat Perdes soal larangan membuang sampah ke sungai,” tukasnya.

Setelah persoalan sampah teratasi, pemdes ingin menjadikan kawasan sungai sebagai kawasan wisata. “Kita ingin di sekitar sungai nanti bisa menjadikan kawasan sungai menjadi wisata air,” pungkasnya. (sam)

[adrotate banner="13"]

Berita Terkait