Supaya Awet dan Tidak Rusak, Ketebalan Aspal di Jl Cipto Ditambah Jadi 7 Cm

Petugas DPUPR Kota Cirebon menambal lubang di Jl Cipto. FOTO: RADARCIREBON.COM
Petugas DPUPR Kota Cirebon menambal lubang di Jl Cipto. FOTO: RADARCIREBON.COM

CIREBON– Kerusakan jalan di sejumlah lokasi, memperlihatkan umur konstruksi yang singkat. Di Jl Dr Cipto Mangunkusumo misalnya. Terdapat sedikitnya 18 lubang, di beberapa bagian terlihat aspal yang mengelupas.

Padahal, ruas jalan ini baru saja mendapatkan penambahan layer dengan aspal hot mix yang proyeknya berakhir akhir tahun lalu. Setiap tahun, jalan ini juga selalu mendapatkan kucuran dana untuk perbaikan yang nilainya mencapai miliaran rupiah.

Anggota Komisi II DPRD Ir Watid Syahriar MBA meminta Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang (DPUPR) untuk mencari cara agar jalan tidak cepat rusak. “Jangan alasannya jalan rusak karena hujan,” katanya kepada Radar Cirebon.

Ia mempertanyakan pelaksanaan proyek perbaikan jalan. Selain dari sisi pengerjaan yang mungkin saja di bawah spesifikasi. Tapi, dari sisi teknis juga ada ketentuan yang menyebabkan aspal kurang awet.

Misalnya, spesifikasi ketebalan aspal yang hanya 3 centimeter. Dengan ketebalan tersebut, tentu jalan jadi mudah rusak. “Harusnya ketebalan minimal 7 centimeter. Jadi aspal tidak gampang terkikis,” katanya.

Dalam catatan Radar Cirebon, perbaikan Jl Dr Cipto Mangunkusumo selalu dilakukan dalam tiga tahun terakhir. Misalnya dalam proyek betonisasi yang merupakan bagian dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Rp96 miliar. Yang diikuti tahun 2017 juga untuk peningkatan jalan meliputi betonisasi, aspal hot mix dan drainase senilai Rp11,5 miliar.

Di tahun 2017, DPUPR sendiri bahkan telah meningkatkan spesifikasi ketebalan minimum aspal dari 2-3 centimeter menjadi 4 centimeter. Namun merujuk rekomendasi DPRD, ketebalan yang disyaratkan jauh dari permintaan.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Bina Bidang Marga DPUPR Hanry David mengaku sudah melakukan perbaikan atas kerusakan jalan di sejumlah lokasi. Salah satu yang sudah dikerjakan adalah kerusakan di jalan Ciremai Raya Perumnas dan tikungan Gunungsari. “Di Jalan Ciremai Raya sudah ada penambalan. Di ruas jalan lain banyak juga yang memerlukan penambalan. Sebagianya sudah dilakukan penambalan,” ujarnya.

Meski sempat mengaku anggaran untuk perbaikan jalan terbilang kecil, namun pihaknya tetap akan melakukan upaya untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat. Dijelaskanya, faktor kerusakan pada jalan aspal adalah air hujan. Aspal merupakan material yang bahan dasarnya terbuat dari air. ketika terkena air akan larut. Sehingga menyebabkan jalan menjadi rusak dan berlubang.

Selain itu, faktor lain yang menyebabkan kerusakan pada jalan adalah kelebihan beban kendaraan dan kekuatan struktur tanah di bawahnya. Meski begitu, penyebab utamanya adalah genangan air selepas turun hujan.

Ditambahkanya, masyarakat juga perlu membantu pemerintah dengan menjaga kebersihan saluran air. Harus ada sinergi dan kerjasama di lingkungan masing-masing. Setidaknya, mencegah ada genangan di jalanan.

Terkait rekomendasi penambahan ketebalan aspal, ia tak sepenuhnya setuju. Hanry berpendapat, ketebalan aspal tidak akan efektif bila jalanan mengalami genangan. “Sekuat apapun aspal akan kalah dengan air. Termasuk dengan menambahkan ketebalan. Sama saja,” lanjutnya. (myg/awr)