Tagline Pariwisata Belum Fix, Pemkot Cari yang Paling Pas

Keraton menjadi destinasi wisata sejarah favorit di Cirebon saat mengisi liburan. Foto: Okri Riyana/Radar Cirebon
Keraton menjadi destinasi wisata sejarah favorit di Cirebon saat mengisi liburan. Foto: Okri Riyana/Radar Cirebon

CIREBON-Pemerintah Kota Cirebon masih membahas tagline pariwisata yang akan digunakan sebagai city branding. Sejauh ini, ada beberapa opsi yang akan dipakai. Yang paling kuat ialah; City of Pilgrimage.

Kepala Dinas Komuniasi Informatika dan Statistik (DKIS) Iing Daiman SIP MSi mengatakan, keberadaan tagline sebagai city branding sangat dibutuhkan. Apalagi Kota Cirebon sedang dalam upaya meningkatkan kunjungan wisata. Juga berusaha menjadi destinasi di wilayah timur Jawa Barat. Tapi, opsi-opsi branding tersebut masih dalam pembahasan. “City branding belum di-fix-an,” ucapnya.

Seperti diketahui, Kota Cirebon saat era Walikota, Subardi SPd pernah memiliki city branding; The Gate of Secret (gerbang rahasia, red). Hanya saja, tagline ini tidak benar-benar dipakai. Dan belakangan ini kurang terdengar. Iing mengakui, ketika dirilis banyak yang mempertanyakan tagline tersebut.

Dengan menguatnya kembali bidang pariwisata tahun 2019, menurut Iing Kota Cirebon seharusnya memiliki city branding yang pas. Lalu, apakah tagline pariwisata itu bakal di-launching lagi? Ia belum bisa memastikan. “Kita belum tahu apakah mau di-launching saat acara Cirebon Festival nantinya,” terangnya.

Bagaimana dengan City of Pilgrimage (kota ziarah)  Iing kembali menekankan, itu belum final dibahas. Tagline baru tersebut adalah usulan dari Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian dan Pengembangan Daerah (BP4D) Arif Kurniawan ST.

Tagline itu terekspos ketika menyampaikan roadmap pariwisata Kota Cirebon. Arif mengakui, City of Pilgrimage adalah usulannya. Namun ia belum menelaah lebih lanjut frasa pilgrimages. Termasuk mencari padanan kata yang pas. Kata ini mesti menggambarkan Kota Cirebon sebagai tempat yang kaya dengan tempat bernilai sejarah, bangunan heritage dan juga sakral.

“Saya belum menelaah. Apa pilgrimage atau sacred place. Kalau bisa cari padanan kata yang pas, yang jelas tempat ziarah. Mungkin bisa city of thousand sacred place atau apa? Kemarin kan baru lontaran aja belum ada yang kasih masukan,” terangnya.

Berdasarkan karakteristik dan motivasinya, perjalanan wisata ziarah justru lebih merujuk pada “religious tourism” atau dalam Bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai “ziarah wisata”.

Beltrami (2010) dan Etymology Dictionary menyebutkan bahwa “pilgrimage” hanya memiliki motivasi devosional. Istilah devosi digunakan untuk menggambarkan praktek ibadah. Sedangkan “religious tourism” memiliki motivasi “two in one”; mengunjungi tempat-tempat suci atau sakral sambil berekreasi. Aktivitas rekreasi inilah yang membedakan keduanya.

Lebih lanjut lagi, dalam dunia kontemporer, biasanya para peziarah yang melakukan “pilgrimage” berasal dari strata yang lebih konservatif, tradisional, sedangkan untuk strata sosial yang lebih tinggi cenderung mempraktikkan “religious tourism”. Jadi? Ada usulan lain? (jml)