Tahun Depan, Bayar Tol Tak Perlu Ngerem

E-Toll
Ilustrasi.

JAKARTA-Pemerintah, Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akhirnya menyepakati implementasi elektronifikasi pembayaran transaksi jalan tol lewat teknologi nir sentuh atau Multi Lane Free Flow (MLFF). Penerapan MLFF di jalan tol Indonesia bisa jadi angin segar sebagai jawaban kemacetan di gerbang tol. Lewat aplikasi ini, para pengguna jalan tol tak perlu lagi menghentikan kendaraan untuk bertransaksi di gerbang tol.

Sistem ini akan memasangkan alat pembayaran elektronik di semua kendaraan. Nah, alat ini akan memancarkan sinyal yang dibaca alat perekam di gardu tol, sehingga saat pengendara melewatinya, saldo akan otomatis terpotong.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Pupera) Basuki Hadimuljono mengatakan penerapan MLFF akan memangkas waktu menjadi nol detik dibandingkan penggunaan uang elektronik dengan waktu transaksi 4 detik. Atau berbeda 10 detik dibandingkan transaksi manual. “Penerapan sistem ini ditargetkan rampung tahun depan. Dengan penggunaan MLFF, manfaatnya sangat besar karena bisa menghilangkan waktu antrean menjadi nol detik,”ujarnya di Jakarta.

“Dengan sistem MLFF, pengguna jalan tol gak perlu memperlambat laju kendaraan atau berhenti sejenak untuk bayar tol. Dengan kata lain, kita bisa ngebut terus di jalan tol yang seharusnya memang bebas hambatan,” sambungnya.

Basuki mengatakan, pengembangan MLFF mulai diujicobakan oleh lembaga pengelola yang berperan sebagai Toll Service Provider (TSP) atau Electronic Toll Collection (ETC). Manfaat lain adalah efisiensi biaya operasi dan meminimalisir bahan bakar kendaraan, katanya.

Saat ini elektronifikasi transaksi telah dilakukan di 50 ruas tol sepanjang 1.780 Km yang pengusahaannya dilakukan oleh 33 Badan Usaha jalan Tol (BUJT) menggunakan uang elektronik chip based yang dikeluarkan oleh 4 bank penerbit.

Saat ini transaksi non tunai tol sudah 100 persen atau meningkat tajam dibandingkan pada Januari tahun 2017 yang masih 20 persen. Nilai transaksi per tahunnya diperkirakan mencapai Rp12 triliun, beber Basuki. Meski demikian, sambung Basuki, untuk menuju MLFF ada empat tahapan yang dilalui.

Tahap pertama yakni pemberlakukan transaksi non tunai 100 persen. Tahapan selanjutnya, integrasi ruas tol telah dilakukan. “Tahapan selanjutnya kita melakukan uji kelayakan MLFF melalui Single Lane Free Flow (SLFF) dan tahap akhir yakni berlakunya MLFF bisa dilaksanakan tahun 2020,” jelasnya.

Saat ini sudah dilakukan uji coba Single Lane Free Flow (SLFF) dengan menggunakan barrier sebanyak 3 lane di Tol Prof Sedyatmo Dalam persiapan menuju MLFF, sejumlah tantangan seperti kliring perbankan dan settlement, pemilihan teknologi yang tepat, interoperabilitas antara BUJT dengan sektor transportasi lainnya dan sistem penegakan hukum. Penetapan kebijakan penggunaan transaksi non tunai di jalan tol menjadi bagian dari Program Bank Indonesia selaku otoritas sistem pembayaran, khususnya terkait Gerakan Nasional Non-Tunai (GNNT).

Sementara Kepala Badan Pengatur Jalan Tol, Danang Parikesit, mengatakan, meski di Indonesia masih rencana, penerapan MLFF sudah dilakukan di sejumlah negara maju. Seperti di Jepang dan Taiwan. Di Jepang, sistem pembayaran nontunai e-toll bahkan berlaku sejak 2001 dan telah ditinggalkan sejak 2006. “Setelah menerapkan e-toll selama lima tahun, hingga kini Jepang memakai sistem MLFF,” jelasnya.

Lewat MLFF, Gardu tol dapat otomatis terbuka tiap dilalui kendaraan yang melaju dengan kecepatan 20 km per jam. “MLFF bias menjawab kemacetan di semua gerbang tol,” tandasnya. (fin/tgr)

[adrotate banner="13"]

Berita Terkait