Tanggap Bencana, Siswa SLB Negeri Pangeran Cakrabuana Gelar Simulasi

SIMULASI-BENCANA-SLB-PANGERAN-CAKRABUANA
Siswa berkebutuhan khusus berusaha menyelamatkan diri saat simulasi tanggap bencana gempa bumi di SLB Negeri Pangeran Cakrabuana. FOTO: NUR VIA PAHLAWANITA/RADAR CIREBON

Sirine bencana terdengar di seluruh ruangan SLB Negeri Pangeran Cakrabuana, Kabupaten Cirebon. Kepanikan terpancar di wajah para siswa SLB yang secara umum penyandang disabilitas tersebut. 

Laporan: Nur Via Pahlawanita, Cirebon

“Gempa…! Gempa…! Gempa…!” Itulah  teriakan yang terdengar dari pengeras suara dan raungan sirine yang memecah aktivitas belajar-mengajar SLB Negeri Pangeran Cakrabuana.

Mendengar peringatan tersebut dengan seketika seluruh siswa SLB  masuk ke lorong-lorong meja. Suara tangis dari kepanikan siswa jadi satu di ruangan. Di waktu bersamaan, guru-guru menggiring murid-murid yang sebagian memakai kursi roda untuk berkumpul di lapangan.

Selang tak berapa lama terdengar aba-aba evakuasi menuju lapangan. Mereka berjalanan beriringan saling menjaga, sekaligus menenangkan para siswa.

Namun kepanikan tersebut bukanlah bencana sesungguhnya. Melainkan skenario simulasi, peningkatan, kapasitas pengurangan resiko bencana dan simulasi penanggulangan bencana di lingkungan SLB Negeri Pangeran Cakrabuana Kabupaten Cirebon, Selasa (8/10).

Kepala SLB Negeri Pangeran Cakrabuana Tisna Ruhiyat menyampaikan, simulasi tersebut sebagai upaya kesiapsiagaan terhadap berbagai kemungkinan bencana yang ada. Apalagi mayoritas siswa SLB yang belajar merupakan penyandang tunanetra yang memiliki kerentanan terhadap bencana alam.

“Kegiatan ini dimaksudkan agar para siswa dan guru sigap menghadapi kemungkinan terjadinya bencana alam,” ungkap Tisna Ruhiyat kepada Radar Cirebon.

Menurutnya, sebelum melakukan simulasi bencana, para guru SLB Negeri Pangeran Cakrabuana terlebih dahulu mengikuti pelatihan dan workshop penanggulangan bencana alam. “Simulasi tanggap bencana ini selain melibatkan siswa juga guru, orang tua dan masyarakat sekitar. Tujuannya ya itu tadi, supaya sigap ketika sewaktu-waktu bencana terjadi,” jelasnya.

Simulasi bencana untuk siswa berkebutuhan khusus ini, sambung Tisna, ditekankan pada pengetahuan soal tanggap bencana terutama gempa bumi. “Nantinya diharapkan, ketika terjadi bencana alam, mereka langsung sigap dan cepat menanggulanginya,” ucapnya.

Diketahui, dalam simulasi tanggap bencana tersebut juga melibatkan tim emergency yakni Nida Hanifah Nasir selaku instruktur dari UI, dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cirebon.

Sementara itu, salah satu guru pendamping simulasi bencana, Intan Kurnia Dewi menuturkan, untuk mendukung program sekolah dan menciptakan situasi aman, maka dipandang perlu dilakukan pelatihan simulasi bencana. Sehingga anak-anak berkebutuhan khusus ini mengetahui bagaimana cara menjaga diri, dan menyelamatkan diri saat bencana.

“Jika suatu saat benar-benar terjadi, mereka sudah waspada dan tahu harus melakukan apa. Sehingga mereka tidak akan panik. Bagitu pun bagi para gurunya tahu apa yang harus dilakukan dalam suasana darurat. Meski demikian kita tidak berharap terjadi sesuatu bencana alam,” tuturnya. (*)

[adrotate banner="13"]

Berita Terkait