Tarif Citros Bakal Naik?

Warga mendaftar untuk bisa menumpang Citros di depan CSB Mall. Dengan tarif Rp5 ribu per sekali perjalanan, warga bisa berkeliling ke sejumlah destinasi wisata di Kota Cirebon. FOTO: KHORUL ANWARUDIN/RADAR CIREBON
Warga mendaftar untuk bisa menumpang Citros di depan CSB Mall. Dengan tarif Rp5 ribu per sekali perjalanan, warga bisa berkeliling ke sejumlah destinasi wisata di Kota Cirebon.FOTO: KHORUL ANWARUDIN/RADAR CIREBON

CIREBONCirebon Tourism on Bus atau Citros sudah dioperasikan sejak awal Maret. Citros sudah melayani pariwisata keliling Kota Cirebon untuk masyarakat lokal maupun wisatawan. Masyarakat hanya membayar tiket seharga Rp5 ribu dan bisa menikmati Citros dengan berkeliling ke sejumlah destinasi wisata di Kota Cirebon per sekali perjalanan.

Sejak beroperasi, Citros selalu diserbu oleh masyarakat yang penasaran dengan bus wisata yang mengadopsi Bandros tersebut. Meskipun begitu, Citros yang sudah beroperasi saat ini masih dalam tahap trial and error operasional. Karena, pihak pengelola masih mengukur berapa jumlah penumpang per harinya.

Wakil Manager Operasional Citros Karsono mengatakan tarif yang saat ini berlaku masih sedang dalam tahap percobaan. Karena, setelah sebulan beroperasi, pihaknya akan mempertimbangkan ulang tarif yang sesuai untuk operasional Citros. Karsono menjelaskan, tarif yang diterapkan saat ini mengacu pada SK Gubernur No 1242-Dishub/2018 tentang Penetapan Tarif dan Penetapan Rute Angkutan Wisata.

Dalam pergub tersebut ditetapkan, masyarakat yang ingin menaiki Citros dikenakan tarif Rp5 ribu per trip atau sekali naik. Sementara, kata Karsono, dengan tarif sebesar itu masih belum menutup BOK atau Biaya Operasional Kendaraan.

BOK itu mencakup persuratan, perizinan, asuransi, perawatan, perbaikan, gaji kru, uang makan kru, dan lain-lain. “Setelah dilakukan trial and error dalam sebulan ini, nanti akan ketemu besaran tarif yang pas,” jelas Karsono saat ditemui Radar Cirebon di depan lobi Cirebon Super Blok (CSB) Mall Cirebon, Jl Cipto MK, Kota Cirebon.

Karsono membeberkan, pihaknya baru mengoperasikan 2 Citros dengan kapasitas tempat duduk sebanyak 20 dan 30 penumpang. Jika ditarif Rp5 ribu per penumpang, maka satu bus akan menghasilkan Rp100.000 per putaran. Jika dalam satu hari membutuhkan 5 hingga 6 putaran, maka satu bus Citros akan menghasilkan Rp600 ribu per hari.

Angka tersebut, sambung Karsono, akan dipotong untuk bahan bakar minyak dan gaji kru, belum untuk biaya perawatan. Sehingga, setidaknya tersisa sekitar Rp200 ribu hingga Rp300 ribu. “Dari jumlah tersebut masih belum terpenuhi untuk operasional. Idealnya kita membutuhkan Rp800 ribu per hari. Nantinya, total BOK akan kita dapatkan dalam setahun, setelah dipotong oleh biaya operasional,” jelas Sekertaris DPC Organda Cirebon tersebut.

Karena itu, lanjutnya, demi memenuhi BOK tersebut, evaluasi terhadap perubahan tarif tiket akan dilakukan setelah masa percobaan ini berakhir. Sehingga, Citros akan tetap beroperasi dan bisa melayani masyarakat maupun wisatawan dalam berwisata keliling Kota Cirebon. “Untuk saat ini kita mencoba melayani masyarakat Kota Cirebon dan sekitarnya,” tandas Karsono.

Sebelumnya, Karsono mengatakan animo masyarakat terhadap Citros bisa dilihat saat loket penjualan tiket dibuka. Sejak pukul 08.00 WIB, warga sudah menunggu di depan Keraton Kasepuhan untuk membeli tiket. Bukan hanya warga lokal, wisatawan dari luar kota juga penasaran dengan Citros.

Banyaknya warga yang penasaran membuat mereka harus menunggu. Karena dua armada Citros yang beroperasi hanya bisa menampung 20 dan 30 orang. “Animo masyarakat terhadap Citros sangat tinggi. Tapi tempat duduk yang tersedia hanya 50 saja. Citros yang berwarna merah 30 dan Citros yang berwarna hijau 20. Dan kita hanya melayani sesuai kapasitas tempat duduk saja,” ungkapnya.

Hal itulah yang membuat warga yang sudah membeli tiket harus menunggu giliran untuk menaiki Citros. Di mana dalam sekali perjalanan mengelilingi objek wisata di Cirebon, Citros bisa memakan waktu 1 hingga 1,5 jam di jam jam sibuk. Kendala itu juga yang membuat Citros tidak sesuai dengan rencana awal. Di mana sebelumnya, Citros direncanakan melintasi makam Sunan Gunung Jati dan Batik Trusmi.

“Karena situasi jalan. Kemacetan sangat berpengaruh. Terutama di perlintasan kereta sebidang. Kalau sesuai rencana awal itu pernah kita coba bisa sampai 4 jam. Kasihan yang sudah beli tiket dan nunggu 4 jam. Terlalu lama. Nanti kita yang diprotes,” katanya.

Selain itu, pihaknya mempertimbangkan kesiapan kru armada. Tercatat saat ini hanya ada 8 kru saja yang melayani penumpang. Mulai dari sopir, guide, dan bagian tiket. Dengan operasional yang masih dikelola secara swadaya, pihaknya masih belum bisa menambah kru, termasuk sopir.

Makanya manajemen mengambil kebijakan untuk hanya melakukan perjalanan enam kali putaran saja. Dari semula beroperasi pukul 09.00-21.00 menjadi pukul 09.00-17.00. “Harusnya sopir untuk satu armada itu dua orang. Jadi bisa gantian,” tandasnya. (awr)