Tawaran Pertukaran Pelajar Antar SMK Solusi untuk Sudahi Tawuran

ILUSTRASI

CIREBON-Tawuran antar pelajar kelewat sering. Dua bulan terakhir, ada tujuh kejadian. Masalahnya, tawuran pelajar seolah tanpa solusi. Dari keprihatinan ini, dirumuskan beberapa tawaran. Yang diharapkan dapat jadi jurus ampuh menuntaskan masalah tawuran.

Tawuran kembali pecah di Jl Perjuangan, sehari sebelum tulisan ini dibuat. Sedikitnya enam remaja digelandang ke Polres Cirebon Kota. Juga ditahan 14 sepeda motor yang ditinggal pemiliknya karena panik ketika polisi datang.

Dari tawuran dua bulan terakhir tercatat 93 pelajar yang diamankan Polres Cirebon Kota. Itu belum termasuk belasan pelajar lainnya yang juga kena ciduk. Hanya saja luput dari pemberitaan media. Toh, diamankannya para pelajar tak menyudahi tawuran. Mereka juga kerap berulang tertangkap. Dan tidak ada efek jera.

Dari beberapa diskusi dengan pelaku pendidikan, akademisi, mencuatlah satu kesimpulan. Yakni, pertukaran pelajar. Cara ini, setidaknya diyakini bisa meningkatkan interaksi antar pelajar SMK dan pada akhirnya dapat meredakan ketegangan diantara mereka.

Ketua Forum Komunikasi Kepala Sekolah Swasta (FKKS-SMK) M Fardan sepakat dengan usulan ini. Program-program persahabatan antar sekolah, pertukaran pelajar diyakini lebih efektif ketimbang seremoni seperti deklarasi ataupun sekadar sanksi lain.

Dengan demikian adanya proses saling kenal dan memahami. Maka diharapkan pelajar bisa mengetahui aktivitas belajar mengajar di sekolah yang berbeda. “Pertukaran pelajar ini bisa meredam tawuran. Pelajar akan saling mengenal. Kalau sudah jadi kawan, mana mungkin tawuran kan,” katanya.

Tindakan preventif lainnya, dengan membangun pos pemantauan dan penjagaan atau pos terpadu didekat sekolah masing-masing. Pos tersebut utama diisi oleh pihak kepolisian dan pihak sekolah bisa turut menempatkan guru atau satpam. Selama ini pos pemantauan hanya ada di sekolah tertentu saja. Di sekolah lainnya yang berpotensi pelajarnya tidak ada pengawasan keamanan. Bisa juga dengan patroli keliling bersama, pada waktu-waktu tertentu.

Fardan juga mengungkapkan pentingnya memberikan pengertian tentang hukum dan sanksi hukum akibat tawuran. Dengan mengetahui adanya sanksi-sanksi hukum yang berat yang dijelaskan pihak kepolisian, diharapkan pelajar akan takut tawuran karena sanksi bisa saja menjeratnya, apalagi kalau sampai menganiaya atau membunuh. “Itu hanya sebatas gagasan, silahkan ambil yang sekiranya bisa diterapkan,” tegas Fadan yang juga Kasek SMK Taman Siswa ini.

Ketua Dewan Pendidikan Kota Cirebon Drs H Hediyana Yusuf MM menilai, fenomena tawuran antar pelajar akan terus berkembang dan membahayakan bila tidak dicegah. “Mereka mengarah ke keonaran. Saya menyatakan, kasus yang terjadi di SMK PUI (kasus pelemperan benda sejenis molotov, red) sudah berat. Saya katakan itu sebuah keonaran. Keonaran yang tidak layak bagi seorang siswa,” tandasnya.

Ia juga mengimbau stake holder dalam hal ini pihak sekolah, menyikapi permasalahan tawuran dengan serius. Pelajaran agama di sekolah, dirasa tidak cukup mewakilkan pendidikan budi pekerti yang cakupannya luas. Karena pelajaran agama hanya dua jam dalam satu minggu. Memenuhi pendidikan akhlak, diperlukan sinergi dinas pendidikan provinsi dan dinas pendidikan kota/kabupaten Cirebon.

Hedi mengatakan budi pekerti mempelajari bagaimana menyapa orang tua yang sopan, berbicara dengan guru, dan masih banyak lagi. Andil orang tua terhadap perilaku anak, dirasa memiliki porsi lebih sedikit. “Sementara orang tua hanya memiliki keinginan anaknya menjadi lebih baik, makannya di sekolahkan. Peran orang tua juga sangat strategis, tapi anak itu waktunya lebih banyak di sekolah,” ungkapnya. (gus/ade)

Berita Terkait