Teaching Factory akan Diterapkan di SMK Jawa Barat

Gubernur Ridwan Kamil memberikan arahan kepada para kepala daerah wilayah Ciayumajakuning di Hotel Prima Kota Cirebon, Kamis (22/11). FOTO: NURHIDAYAT/RADAR CIREBON
Gubernur Ridwan Kamil memberikan arahan kepada para kepala daerah wilayah Ciayumajakuning di Hotel Prima Kota Cirebon, Kamis (22/11). FOTO: NURHIDAYAT/RADAR CIREBON

JAKARTA–Agar lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) diserap oleh dunia usaha, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil berencana akan merombak kurikulum. Sebab, kurikulum SMK dianggap sudah tidak relevan dengan kebutuhan ekonomi saat ini.

“Pendidikan itu harus dinamis, mengikuti perkembangan zaman. Apalagi SMK adalah yang lulusannya harus siap pakai,” katanya.

Rencananya, perombakan kurikulum SMK di Jawa Barat akan dibuatkan pola kemitraan dengan beberapa perusahaan penyedia lapangan pekerjaan. Apalagi, saat ini SMK sudah dikelola oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat, seperti gaji guru dan subsidi siswa.

“Gaji guru, subsidi siswa dan aset SMK akan menjadi tanggungjawab Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Nah, untuk kurikulum, nanti akan dijadikan kemitraan dengan Astra, Indofood atau lainnya,” bebernya.

Pihaknya berharap, dengan metode Teaching Factory (kurikulum kemitraan dengan dunia industri), siswa-siswi SMK akan diajarkan sebuah materi pembelajaran yang berorientasi produksi dan bisnis.

Artinya, proses penguasaan keahlian atau keterampilan yang dilaksanakan sesuai dengan prosedur dan standar  bekerja yang sesungguhnya untuk menghasilkan produk atau jasa yang dipesan oleh konsumen.

“Dengan kekuatan Astra yang besar, mayoritas usahanya di Jawa Barat. Agar di-match-kan dengan kami problemnya. Maka, saya titip, jangan sampai mereka (siswa/i SMK) mendapatkan ilmu untuk tidak bekerja,” pungkasnya. (jun/rls)