Teknologi Rumah Prisma, Tepat untuk Pengembangan Garam Cirebon

Deretan rumah prisma di pesisir Desa Bungko Lor, Kecamatan Kapetakan, Kabupaten Cirebon. Dengan teknologi tunel dan rumah prisma, panen garam bisa dilakukan kapan saja. FOTO:ANDRI WIGUNA/RADAR CIREBON
Deretan rumah prisma di pesisir Desa Bungko Lor, Kecamatan Kapetakan, Kabupaten Cirebon. Dengan teknologi tunel dan rumah prisma, panen garam bisa dilakukan kapan saja.FOTO:ANDRI WIGUNA/RADAR CIREBON

CIREBON-Potensi pesisir Cirebon saat ini belum tergarap maksimal. Dengan panjang garis pantai sekitar 54 Km, seharusnya banyak peluang yang bisa digali untuk mendorong tumbuhnya perekonomian masyarakat pesisir.

Salah satu potensi yang bisa didorong untuk pengembangan kawasan pesisir adalah optimalisasi lahan tambak garam di Kabupaten Cirebon. Jika selama ini masih digarap konvensional sehingga belum maksimal dan sulit berkembang, maka ke depan dibutuhkan teknologi terapan dan tepat guna.

Kondisi tersebut mendorong Radar Cirebon Group untuk berpartisipasi dalam pengembangan kawasan pesisir. Salah satunya pengembangan industri garam rakyat di Kabupaten Cirebon. Hal tersebut disampaikan CEO Radar Cirebon Group Yanto S Utomo saat melihat tempat produksi garam di Desa Bungko Lor, Kecamatan Kapetakan, Kabupaten Cirebon.

Tempat produksi garam itu milik salah satu pengusaha yang sudah menggunakan teknologi tunel dan rumah prisma. Pada kesempatan itu, Yanto mengatakan Radar Cirebon Group sangat terbuka dan merespons positif upaya-upaya yang dilakukan masyarakat dalam pengembangan potensi wilayah, termasuk di kawasan pesisir.

“Kita ke sini (produksi garam Bungko Lor, red) untuk belajar, melihat dan bertanya langsung ke pelaku usaha. Kita ingin tahu perbedaan produksi petani yang konvensional dan dengan yang sudah menggunakan teknologi. Baru setelah kita tahu, kira-kira apa yang bisa kita lakukan untuk memaksimalkan potensi tersebut,” ujarnya.

Setelah mendengarkan paparan dari petani garam yang mengelola rumah prisma tersebut, Yanto memastikan Radar Cirebon Group akan melakukan upaya-upaya yang diperlukan untuk mendukung industri garam rakyat agar tak kalah kualitas dengan garam impor.

“Kita punya potensi untuk maju. Bahkan saya lihat kualitas garamnya pun sangat bagus, putih bersih, dan bening. Kita akan coba dorong agar teknologi seperti ini bisa diterapkan banyak petani. Tapi memang yang jadi persoalan, teknologi ini tidak murah, butuh dana yang cukup besar,” imbuhnya.

Tapi, lanjut Yanto, dana yang dikeluarkan untuk mengaplikasikan teknologi tunel dan rumah prisma tersebut sebanding dengan pendapatan serta keuntungan yang bisa diraih petani garam, karena harganya jauh lebih mahal.

“Kalau garam krosok yang biasa itu kan paling mahal sekarang harganya Rp300 sampai Rp500/kg. Tapi kalau garam dengan teknologi ini harganya bisa sampai Rp2.000-3.000/kg. Dan yang tidak kalah penting bisa panen sepanjang tahun termasuk di musim hujan,” jelasnya.

Halaman: 1 2 3

Berita Terkait