Teroris Brenton Tarrant, Pelaku Penembakan Massal 2 Masjid di Selandia Baru

Brenton Tarrant (Foto.ABC)

Terduga pelaku penembakan masjid di Selandia Baru, masjid Al Noor dan masjid Linwood, pada Jumat, 15 Maret 2019, bernama Brenton Tarrant yang lahir di Australia. Tarrant yang diduga berusia akhir 20-an, adalah pelatih kebugaran di sebuah klub olah raga bernama Big River Gym berlokasi di utara kota Grafton, negara bagian New South Wales, Australia.

Penembakan itu ia siarkan secara online dan menghadirkan manifesto 74 halaman berjudul “The Great Replacement”.

Manifesto yang tidak ditandatangani itu dipenuhi dengan ide-ide anti imigran, anti-Muslim, supremasi kulit putih, dan penjelasan tentang sebuah serangan. Manifesto itu mengulangi poin-poin pembahasan umum “sayap kanan”. Manifesto itu juga mengutuk upaya pembatasan senjata api di AS dan berjanji untuk memulai perang ras di Amerika.

Ia melabeli dirinya sebagai “warga kulit putih biasa”.

 

Perdana Menteri Australia Scott Morrison membenarkan bahwa Tarrant adalah warga negara Australia.

Tarrant mengklaim serangan itu untuk mewakili “jutaan warga Eropa dan bangsa-bangsa etno-nasionalis lainnya”. Dia mengatakan “kita harus memastikan keberadaan rakyat kita, dan masa depan untuk anak-anak kulit putih”.

Dia menggambarkan alasannya adalah untuk “menunjukkan kepada penjajah bahwa tanah kami (mewakili orang kulit putih Eropa) tidak akan pernah menjadi tanah mereka (imigran), tanah air kami adalah milik kami sendiri dan bahwa, selama orang kulit putih masih hidup, mereka tidak akan pernah menaklukkan tanah kami dan mereka tidak akan pernah menaklukkan tanah kami.”

Tarrant mengungkapkan dia telah merencanakan serangan ini dalam dua tahun, dan memilih untuk menyerang masjid di Christchurch sejak tiga bulan lalu.

Dia mengatakan Selandia Baru bukan “pilihan utama untuk menyerang”, tetapi menggambarkan Selandia Baru sebagai “sasaran empuk seperti di tempat lain di Barat”.

“Sebuah serangan di Selandia Baru akan memusatkan perhatian pada kebenaran serangan terhadap peradaban kita, bahwa tidak ada tempat di dunia ini yang aman. Para penyerang berada di semua tanah kita, bahkan di daerah-daerah terpencil di dunia dan bahwa tidak ada tempat lagi yang aman dan bebas dari imigrasi massal.” (*)

Berita Terkait