Terungkap, Manusia Tidak Bisa Hidup Tanpa Telepon Pintar

Pengguna gawai di Indonesia yang berjumlah lebih dari 40 juta orang menjadi pasar potensial bagi produk telepon pintar.

Telepon pintar telah menjadi teman tetap manusia. Penelitian di Amerika Serikat menunjukkan, 46 persen orang dewasa melaporkan tidak bisa hidup tanpa telepon pintar. Penelitian itu juga mengungkap ketergantungan manusia dengan telepon pintar karena sejarah evolusi manusia.

Laporan kajian berjudul ”Telepon Pintar dan Hubungan Dekat Kasus untuk Ketidakcocokan Evolusi” itu dimuat dalam jurnal Perspectives on Psychological dan dipublikasikan juga dalam Sciencedaily.com, 11 Februari 2019.

Kajian dilakukan David A Sbarra dari Departemen Psikologi Universitas Arizona serta Julia L Briskin dan Richard B Slatcher dari Departemen Psikologi Universitas Negeri Wayne, Detroit, AS.

Mengutip Pew Research Center, tahun 2016, di seluruh dunia, lebih dari 2 miliar orang memiliki telepon pintar. Sebanyak 77 persen orang Amerika mengakses telepon pintar setiap hari, berinteraksi di situs jejaring sosial, seperti Facebook, Twitter, Instagram, atau Snapchat.

Lebih dari seperempat orang di Amerika Serikat melaporkan mengakses telepon pintar hampir terus-menerus. Dalam survei Pew Research Center tahun 2015, sebanyak 46 persen orang dewasa melaporkan bahwa mereka tidak bisa hidup tanpa telepon pintar.

Dalam kajiannya, Sbarra dan rekan-rekannya mengusulkan penjelasan mengapa manusia begitu tertarik pada telepon pintar, bahkan ketika perangkat itu membuat orang keluar dari momen hubungan dekat antarmanusia. ”Hal itu karena sejarah evolusi kita,” tulis mereka.

Manusia terprogram untuk terhubung dengan orang lain. Dalam perjalanan sejarah evolusi, manusia mengandalkan hubungan erat dengan jaringan kecil keluarga dan teman untuk bertahan hidup sebagai individu dan sebagai spesies. Hubungan ini didasarkan pada kepercayaan dan kerja sama yang dibangun ketika orang mengungkapkan informasi pribadi tentang diri mereka sendiri dan responsif terhadap orang lain.

Telepon pintar dan akses konstan yang mereka berikan melalui pesan teks dan media sosial memudahkan orang untuk mengungkapkan informasi pribadi dan menanggapi orang lain di jejaring sosial mereka. Jaringan ini lebih besar dan lebih jauh daripada jaringan nenek moyang manusia.

Gambar atau tarikan telepon pintar terhubung ke modul yang sangat tua di otak yang sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia. Cara manusia terhubung dengan orang lain adalah penyingkapan diri dan responsif. Evolusi membentuk penyingkapan diri dan responsif dalam konteks jaringan kerabat kecil.

”Kami sekarang melihat perilaku ini lebih atau kurang dikutip oleh situs jejaring sosial dan melalui telepon kami. Lihatlah, orang menelusuri Facebook dan tanpa berpikir menekan tombol ’suka’ ketika anaknya mencoba untuk menceritakan sebuah kisah kepadanya,” tutur Sbarra.

Ia tidak percaya telepon pintar semuanya buruk. Faktanya, ia dan rekan-rekannya mengakui bahwa perangkat itu menawarkan beberapa manfaat bagi kesehatan dan kesejahteraan, dan mengirim pesan singkat memberi banyak pasangan rute untuk terhubung dengan cara yang bermakna.

”Kami menjauh dari pertanyaan apakah situs jejaring sosial dan penggunaan ponsel pintar itu baik atau buruk. Teknologi ada di mana-mana, dan itu tidak akan hilang, juga tidak boleh,” ujarnya.

Penelitian tentang dampak negatif telepon pintar antara lain dilakukan Universitas Ride, AS. Studi selama setahun tentang pengguna telepon pintar ini menemukan bahwa pengguna merasa telepon pintar sebenarnya merugikan kemampuan mereka untuk belajar.

Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa meskipun para pengguna awalnya percaya bahwa perangkat seluler akan meningkatkan kemampuan mereka untuk berkinerja baik dengan pekerjaan rumah dan tes dan pada akhirnya mendapatkan nilai yang lebih baik, yang sebaliknya dilaporkan pada akhir penelitian.

”Penelitian kami dengan jelas menunjukkan bahwa hanya menyediakan akses ke telepon pintar, tanpa kegiatan pembelajaran yang diarahkan khusus, sebenarnya dapat merusak proses pembelajaran secara keseluruhan,” kata Philip Kortum, guru besar psikologi di Universitas Rice, seperti dikutip Sciencedaily.com, 7 Juli 2015. (*)