Tim Kansar Cirebon Juga ikut Pencarian Korban Lion Air

ILUSTRASI

CIREBON-Proses pencarian korban jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 di perairan laut Karawang masih terus dilakukan. Pemerintah masih terus berupaya untuk melakukan pencarian terhadap para korban. Namun demikian, beberapa kendala terjadi saat proses pencarian.

Kepala Kantor SAR Cirebon Imam Rosyadi saat dihubungi Radar Cirebon menuturkan pihaknya mengirimkan personel dari Kansar Cirebon untuk ikut membantu proses pencarian terhadap para korban. “Kalau untuk permukaan relatif aman, bisa terlihat dengan jelas. Masalahnya justru ada di dalam air. Kendalanya ada di visibility atau pantauan karena di dalam air masih banyak bahan bakar yang tercecer,” ujarnya.

Menurut Imam, pihaknya mengirimkan 7 personel dari Kansar Cirebon dan 18 ABK. Jumlah tersebut ditambah dengan Kansar Bandung. Jika ditotal dengan Cirebon berjumlah sekitar 53 orang. “Untuk cuaca sendiri selama proses pencarian relatif aman, tidak ada hujan, angin, badai ataupun gelombang tinggi. Semuanya normal. Kendala hanya persoalan visibility karena adanya bahan bakar di air,” bebernya.

Saat ini, menurut Imam, pihaknya masih fokus di sekitar perairan Karawang dan belum bergeser ke perairan Indramayu. Kansar Bandung dan Cirebon mengerahkan 7 kendaraan, 4 perahu karet (LCR) dan  6 alat selam serta alat komunikasi. “Kapal Basarnas yang ada di Pelabuhan Cirebon pun diluncurkan ke lokasi untuk membantu proses evakuasi,” paparnya.

Imam pun meminta doa dari masyarakat Indonesia, khususnya Cirebon, agar upaya pencarian dan pertolongan mendapatkan hasil yang maksimal dan seluruh korban bisa ditemukan. “Minta doanya, mudah-mudahan dilancarkan semuanya,” ungkapnya.

Sementara dari Jakarta, Kepala Basarnas Marsekal Madya M Syaugi mengatakan tidak ada kendala berarti dalam melakukan pencarian korban dan bangkai pesawat Lion Air JT 610. Hanya kendala waktu yang terhalang oleh timnya.  “Untuk pencarian itu kan 24 jam sesuai perintah Pak Presiden. Tapi untuk penyelaman mencari korban itu kan sampai jam tujuh malam saja. Jadi memang faktor waktu,” terang Syaugi.

Syaugi mengaku jika Tim Basarnas benar-benar total melakukan pencarian terhadap para korban. Lebih dari itu, untuk pencarian korban benar-benar dari Indonesia tanpa adanya bantuan dari asing.  “Dikordinir langsung oleh Basarnas dibantu TNI, Polri, Kemenhub dan juga masyarakat. Kita total. Sampai tim saya bisa menyelam di kedalaman 30 meter,” paparnya.

Lebih lanjut Syaugi memaparkan pihaknya mempunyai SOP waktu pencarian sesuai dengan undang-undang. “Sesuai SOP itu tujuh hari, jika itu tidak cukup kita perpanjang sampai tiga hari. Setelah sepuluh hari kita analisa, kalau memang ada kemungkinan akan ditemukan akan ditambah terus seperti di Palu dan Lombok,” jelasnya.

Untuk pencaraian korban sendiri, Syaugi mengakui telah menyediakan 20 kapal. “Ini bentuk keseriusan kita dengan mengerahkan 15 sampai 20 kapal. Ini bangsa kita, warga negara Indonesia yang menjadi korban. Jadi kita harus all out mencarinya. Semoga semua korban dengan cepat ditemukan dan diidentifikasi. Doakan saja ya,” pungkasnya. (dri/FIN)