TKW Majalengka Hilang Kontak sejak 2018 Kirim Surat, Disiksa Majikan

tkw-majalengka-di-arab
ADA HARAPAN: Riski Pramudianto (25) menunjukkan foto dan surat yang dikirim ibunya Endah Suherti yang bekerja di Arab Saudi dan sudah hilang kontak cukup lama. FOTO: ONO CAHYONO/RADAR MAJALENGKA

MAJALENGKA – Persoalan yang dialami tenaga kerja wanita (TKW) asal Kabupaten Majalengka tampaknya belum pernah habis. Setelah pahlawan devisa asal Kecamatan Kertajati hilang kontak belasan tahun, kali ini kembali muncul nasib serupa dialami Endah Suherti (46), TKW asal Blok Jumat, RT 02/05 Desa Cidenok, Kecamatan Sumberjaya.

Informasi yang dihimpun Radar Majaengka menyebutkan, Endah yang berangkat sejak 23 November 2006. Dia berangkat melalui PT Avida Aviaduta, Jakarta, dengan sponsor asal Desa Ciwaringin, Kecamatan Ciwaringin, Kabupaten Cirebon, itu hilang kontak sejak 2008.

Yang mengagetkan pihak keluarga, saat ini muncul surat tertulis dari Endah bahwa dirinya selama bekerja di Talal Isbaha Khamis Mushait Saudi Arabia itu mendapatkan perlakuan kasar dan sering disiksa majikannya.

Surat sebanyak empat lembar yang dikirim via foto WhatsApp (WA) kepada adiknya yang berada di Tangerang tersebut membuat geger pihak keluarga. “Saya mohon pertolongan dari pihak KBRI dengan amat sangat. Sudah satu tahun saya dikurung dan disiksa majikan. Karena saya minta pulang dan tidak di gaji-gaji,” sepenggal isi surat tersebut.

Adik ipar Endah, Karyudin (40) mengatakan, pihak keluarga mendapatkan isi surat tersebut hari Minggu (7/1), dari orang yang mengaku sopir majikan Endah.

“Kebetulan yang mengirim pesannya ke istri saya (adik Endah) melalui WA yang sedang bekerja di Tangerang. Kami (keluarga) di Cidenok menerimanya pagi hari sekitar pukul 09.00. Kami sangat kaget karena selama ini tidak ada kabar apapun tiba-tiba muncul informasi buruk,” tuturnya, Selasa (8/1).

Karyudin mengaku bahwa nomor telepon istrinya sudah sangat lama tidak pernah ganti. Sehingga kakaknya yang berada di Saudi Arabia mengetahui dan sering berkomunikasi langsung. Bahkan, bentuk lembaran surat tersebut didapatinya dari sopir dari India yang nge-share via WA.

Diakuinya, selama bekerja di Saudi Arabia keluarga hanya bisa menerima telepon, itu pun lewat teman kerjanya. “Istri saya dulu juga pernah bekerja di Taiwan bahwa korban sering berkomunikasi. Tetapi pas ditelepon balik tidak bisa dihubungi karena selalu diawasi majikannya,” ujarnya.

Sementara itu, putra Endah, Riski Pramudianto (25) menambahkan, ibunya memang pernah mengirimkan uang kepada keluarga selama tiga tahun saat bekerja mulai 2006 hingga 2008. Namun, kata Riski, pada tahun 2008 akhir  hingga sekarang tidak ada kabar apalagi mengirimkan uang.

“Keluarga pernah menerima. Besarannya relatif. Pernah Rp 3 juta pada tahun 2006 atau bulan-bulan sejak baru bekerja. Itu pun diterima tidak setiap bulan. Kadang lima sampai enam bulan sekali. Setelah itu tidak ada kabar sama sekali,” imbuhnya.

Bahkan, Riski juga pernah menerima informasi via telepon dari ibunya yang mendadak ada kabar pada keempat tahun berikutnya atau tahun 2012. Ibunya pun sering bilang meminta pulang namun tidak bisa karena selalu diawasi hingga disiksa fisik oleh majikannya.

“Ibu juga bilang kalau setiap minta dipulangkan selalu disiksa. Beliau cerita ada bekas jahitan di kepala karena sering disiksa. Sekarang sudah satu tahun dipenjara dan sering sakit-sakitan komplikasi. Ibu itu awalnya pembantu IRT selama tiga tahun, setelah itu atau sebelum di penjara bekerja di salon milik majikannya,” bebernya.

Riski menjelaskan, pihak keluarga pernah berupaya mengurus kepulangan Endah pada tahun 2016 ke BNP2TKI. Hanya saja karena tidak ada data lengkap sehingga upaya tersebut gagal hingga sekarang muncul informasi tengah di penjara.

“Kami berharap pemerintah segera ambil tindakan guna bisa memulangkan Ibu Endah ke kampung halamannya,” ujarnya. (ono)