TNI AD Pertahankan Enzo sebagai Taruna Akmil, KSAD: Indeks Moderasi Bernegaranya 84%

KSAD Jenderal TNI Andika Perkasa mengatakan pihaknya tetap mempertahankan Enzo Zenz Allie sebagai Akademi Militer (Akmil) 2019.

JAKARTA-TNI Angkatan Darat (AD) mempertahankan Enzo Zenz Allie (18) sebagai taruna di Akademi Militer (Akmil). Sosok Enzo sempat viral di media sosial karena diduga terafiliasi dengan ormas terlarang di Indonesia, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Andika Perkasa menuturkan, Enzo dalam penilaian seleksi calon taruna (Catar) Akmil mendapatkan nilai yang cukup baik.

“Kami lakukan (penilaian) pada Sabtu dan Minggu. Kesimpulan Enzo dilihat dari indeks moderasi bernegara memiliki nilai 84 persen. Jadi indeks moderasi keberagaman cukup bagus. Angkatan darat mempertahankan Enzo,” ujarnya dalam jumpa pers di Mabesad, Jakarta Pusat, Selasa (13/8/2019).

Andika memastikan, pihaknya tidak akan berhenti pada penilaian awal. Nantinya, Enzo akan tetap dinilai selama menjalani pendidikan di Akmil empat tahun mendatang.

“Namun demikian penilaian terhadap calon perwira ada masa tahap pendidikan, maka selama empat tahun itu pula penilaian berlaku. Tidak semuanya berhasil. 2014 ada tiga orang ada taruna Akmil yang di DO (Drop Out). Kemudian 2015 ada satu orang. 2018 ada 5 orang,” tuturnya.

Dia berharap seluruh taruna Akmil yang sedang menempuh pendidikan dapat menjadi seorang prajurit TNI yang mampu menjaga keutuhan NKRI. “Harapan saya Enzo dan teman-teman lulus pada saat seleksi awal, sehingga mereka bisa menjadi perwira TNI AD yang bisa menjaga keutuhan NKRI,” ucap mantan komandan Paspampres ini.

Enzo Zenz Allie (18), pemuda berdarah Prancis, satu dari 346 calon taruna (catar) yang lolos, dari 634 taruna dan taruni Akademi Militer (Akmil) 2019. Sosok Enzo yang lahir dan besar di Paris ini menjadi perhatian Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto.

Di hadapan Panglima TNI, Enzo mengutarakan niatnya menjadi prajurit Infanteri dan Kopassus. Enzo merupakan pemuda berdarah campuran. Ayahnya berasal dari Prancis dan ibunya orang Indonesia. Dia lahir dan besar di Paris, namun beranjak remaja, keluarganya kembali ke Indonesia, saat usianya 13 tahun.

Tak lama berselang, Enzo memicu kontroversi karena dituding simpatisan ormas terlarang, HTI. Dugaan Enzo sebagai pendukung HTI viral setelah foto-fotonya beredar di media sosial Twitter.

Seorang netizen yang menelusuri akun Facebook-nya menemukan foto-foto Enzo berlatar belakang bendera HTI. Ibunya juga diduga kuat pendukung organisasi yang bercita-cita mendirikan khilafah di Indonesia tersebut. (*)