Toko Didi S Berdiri Tahun 1975, Toko Layang-layang yang Melegenda, hingga Sekarang Masih Ramai Pembeli

Toko Didi S hingga kini tetap eksis menyediakan layangan dan perlengkapannya. FOTO:NOVRILA MAYANG/RADAR CIREBON
Toko Didi S hingga kini tetap eksis menyediakan layangan dan perlengkapannya.FOTO:NOVRILA MAYANG/RADAR CIREBON

CIREBON-Bagi anak-anak Cirebon, toko ini begitu mashyur. Bagi anak-anak zaman old maupun anak-anak zaman now. Sudah sejak tahun 1975, toko yang berlokasi di Jalan Pekalipan itu menjadi jujugan. Pun hingga sekarang.

Untuk pehobi permainan layangan, Toko Didi S bak surga. Segala sesuatu yeng berhubungan dengan layang-layang  ada di sini. Pemilik pertamanya memang sudah tiada. Namun, kini diteruskan kembali oleh sang kakak, Risa Warsih.

Wanita kelahiran tahun 1939 itu masih lantang bercerita. Meskipun pendengarannya mulai terganggu. Alhasil, saat Radar Cirebon mewawancarainya harus terus mendekat. Etalase toko yang memisahkan membuat volume komunikasi juga harus ditingkatkan lebih ekstra.

Sepanjang obrolan, Risa selalu mengumbar senyum. Terpancar optimisme dari wajahnya yang seakan tak pernah padam. Dia lalu flashback ke tahun 1975. Ketika cikal-bakal toko layang-layang ini dimulai. Matanya dipicingkan. Sembari mengingat-ngingat apa yang sudah terjadi. Hingga toko layangan satu-satunya mata pencahariannya itu masih kokoh  berdiri.

Diceritakan Risa, semuanya berawal di tahun 1975. Saat itu ayahnya yang mendirikan. Masih berjualan dengan meja ketengan. Seperti pedagang kaki lima. Yang beli pun beragam. Lambat laun usahanya itu makin digemari. Khususnya anak-anak, maupun pedagang eceran.

Hingga di tahun 1980-an, kerja keras ayah Risa membuahkan hasil. “Baru di tahun 1908-an ini makin meningkat. Papa saya berani buka toko kecil-kecilan. Khusus perlengkapan layangan. Saat itu bukanya di Jalan Pandesan,” kenangnya.

Di tahun 1997 tokonya dipindahkan ke Pekalangan. Risa enggan membuka alasan perpindahan itu. Sejak tahun 1997 inilah kepemilikan Toko Layang-Layang Didi S mulai dikelola Risa. Penamaan Didi S itu juga sejak lama. Merupakan nama sang adik yang kini sudah tiada. Mempertahankan eksistensi inilah yang coba diteruskan Risa.

Olehkarena itu Risa selalu melengkapi tokonya dengan alat tempur berbagai peralatan penunjang bermain layangan. Mulai dari layangan berbagai ukuran. Benang gelasan hingga benang plastik. “Dari layangan sampai benang, semuanya dikirim dari Bandung. Sejak dulu,” ungkapnya.

Risa membeberkan, dari dulu hingga kini harga layangan relatif stagnan. Dijualnya ngeteng atau eceran kepada siapa saja. Banyak anak-anak yang hingga kini masih bolak-balik ke tokonya. Layangan ukuran kecil atau biasa dijualnya mulai Rp500, Rp1.000 hingga Rp2.000. Yang termahal dihargai Rp6.000 untuk layangan besar dan berbentuk karakter.

Sedangkan untuk peralatannya, dijualnya benang plastik mulai dari harga Rp2.000 hingga Rp15.000. Kemudian untuk benang gelasan dibandrol dari Rp1.000 hingga Rp8.000. “Anak-anak masih banyak yang ke  sini. Yang beli untuk dijual kembali pun banyak,” terangnya.

Dari dulu hingga kini, diakui Risa tak banyak perubahan. Karena dijual eceran yang membeli pun mayoritas anak-anak pehobi permainan layangan. Penjualannya sangat ditentukan ketika musim angin atau tidak. Juga ketika libur sekolah. “Biasanya ramai kalau lagi nggak musim angin. Sekitar bulan dua dan bulan tiga (Februari dan Maret, red). Nah sekarang ini lagi ramai. Kalau anak-anak libur sekolah juga pasti ramai beli ke sini,” akunya.

Risa berharap tokonya masih bisa bertahan di tengah majunya zaman. Karena ia yakin anak-anak masih akan senang bermain layangan.  Risa juga ingin toko yang buka dari pukul 08.00 hingga 17.00 itu tetap menjadi referensi. Bagi pehobi atau siapa saja yang ingin membeli perlengkapan layangan. (myg)

[adrotate banner="13"]

Berita Terkait