Tukang Becak Bunuh Tetangganya: Temuan Mengejutkan Psikolog, Cenderung Membunuh Pada Manusia?

KORBAN-TUKANG-BECAK-SADIS
TIBA DI RUMAH DUKA: Jenazah Alifah usai dilakukan otopsi di RS Bhayangkara Indramayu. FOTO: NURHIDAYAT/RADAR CIREBON

Pembunuhan yang menggemparkan Desa Tuk, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon, Jumat malam (11/1) masih menjadi buah bibir warga. Kemarin, usai dilakukan outopsi di RS Bhayangkara Indramayu, jenazah Alifah (50) tiba di rumah duka, di RT 2 RW 3 Desa Tuk.

“Tadinya penginnya semua sekeluarga (dibunuh, red), untungnya saya lari sama anak dua. Terus bapak di sini di kamar sama adik. Pintu dikunci,” cerita Maemunah.

Mengapa itu semua bisa terjadi?

Jawabannya: Manusia memiliki sifat dasar dan naluri untuk membunuh.

Dave Grossman, penulis buku On Killing: The Psychological Cost of Learning to Kill in War and Society menyatakan bahwa manusia memiliki sifat dasar seperti primata lainnya. Dave yang juga merupakan mantan tentara Amerika Serikat ini menganalogikan manusia seperti kera dalam kerajaan primatanya.

“Mayoritas para kera tidak ingin membunuh spesiesnya sendiri kecuali muncul sesuatu hal yang mengganggu.”

Jika muncul konfrontasi antar-kelompok yang dianggap mengganggu, maka pihak musuh dianggap inferior sekaligus marabahaya yang harus dilenyapkan. Maka, untuk mendapatkan posisi sebagai superior, para kera ini melakukan pertarungan hingga tak jarang sampai menghilangkan nyawa dari lawannya. Itul juga terjadi pada manusia.

Walau tak dapat dipukul rata bahwa semua manusia memiliki keinginan membunuh, tetapi neurolog Jonathan Pincus dalam bukunya Base Instincts: What Makes Killers Kill? menyatakan kesimpulan serupa. Manusia akan cenderung melakukan aksi membunuh manusia lainnya dalam usaha mempertahankan diri atau menyelamatkan nyawa sendiri.

Analisa sifat dasar manusia sebagai pembunuh ini sempat dituliskan Review Global berdasar penelitian dari David M Buss, psikolog sekaligus profesor di University of Texas di Austin. Penelitian yang dilakukannya mengemukakan sekitar 91 persen pria atau 84 persen wanita memiliki keinginan untuk membunuh makhluk hidup lain, baik itu manusia, hewan maupun tumbuhan.

Selain Buss, penelitian-penelitian lain juga banyak yang menyatakan bahwa aktivitas saling bunuh pada manusia merupakan alur dari genetika atau sosiobiologi, sampai alur evolusi manusia. Sebab, ternyata insting manusia untuk mempertahankan hidupnya dengan cara bersaing sudah berada sejak di dalam rahim.

Reaksi ini diperlihatkan sebuah hasil MRI pada janin kembar, untuk mendapat ruang yang maksimal pada rahim ibunya, mereka tak segan untuk menendang dan mendorong saudaranya. Mungkin, inilah awal mula alasan munculnya sifat egois dan kejam pada manusia saat merasa terpojok dan terancam, insting untuk bertahan hidup.

Terlepas dari kajian ilmu psikologi, ternyata ada penelitian biologi yang menunjukkan manusia memiliki gen yang mendasari rasa ingin membunuh.

Dalam membahas sifat manusia jelas tingkatan genetika tak bisa dilepaskan. “Gen Pejuang” atau “Warrior Gene” adalah gen ditengarai menjadikan sifat dasar pemiliknya menjadi agresif dan kasar.

Penelitian membuktikan, tikus dengan gen pejuang lebih tinggi dalam tubuhnya memiliki sifat lebih agresif diandingkan tikus lainnya yang normal. Walau memiliki aktivitas rendah atau bahkan tidak ada aktivitas sama sekali, gen ini dapat tumbuh dan aktif pada seseoraang yang hidup di lingkungan yang keras dan membuat perilaku negatif.

Di luar kontroversi dan kemungkinan adanya temuan tandingan, temuan ilmiah seperti ini lagi-lagi bisa menyebabkan pertanyaan lain di bidang hukum. Jika membunuh bisa dijustifikasi dengan penjelasan genetik, apakah sang pelaku kemudian bisa diminta pertanggungjawaban di muka pengadilan? (*)

[adrotate banner="13"]

Berita Terkait