Ungkap Alasan Cabut Peringatan Dini Tsunami, BMKG Belum Terima Laporan Kerusakan di Banggai Sulteng

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) membeberkan alasan mengapa mencabut peringatan dini tsunami usai gempa Magnitudo 6,8 mengguncang Banggai Kepuluan Sulawesi Tengah.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menyatakan jika pasca gempa berkekuatan m 6,8 pihaknya langsung melakukan monitoring permukaan air laut di beberapa lokasi.

“Setelah dilakukan monitoring terhadap muka air laut melalui pengamatan Tide Gauge di lokasi Kendari (Sulawesi Tengggara) dan Taliabu (Maluku Utara), berdasarkan pengecekan kondisi lapangan BMKG dan BPBD peringatan dinyatakan berakhir,” ujar Dwikorita di kantor BMKG, Jakarta Pusat, Jumat (12/4/2019).

Dwikorita menyatakan, peringatan dini dicabut sekiranya pada pukul 19.47 WIB atau 20.47 WITA, dimana sekiranya satu jam usai gempa pertama terjadi.

Sejauh ini, lanjut dia, pihak BMKG belum mendapatkan adanya dampak dan kerusakan yang ditimbulkan oleh gempabumi tersebut.

BMKG mencatat ada 18 wilayah di Sulawesi Tengah hingga Sulawesi Selatan yang juga merasakan gempa tektonik berkekuatan Magnitudo 6,8 di Kepulauan Banggai, Sulteng. Namun hingga saat ini BMKG belum menerima laporan kerusakan.

“Saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa. Sampai pukul 21.00 WIB, kami sudah cek melalaui petugas di lapangan, belum ada laporan, dan di medsos belum ada laporan ada kerusakan,” kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati kepada wartawan di kantor BMKG, Kemayoran, Jakarta Pusat, Jumat (12/4/2019).

BMKG mencatat ada lima wilayah terdampak gempa dengan intensitas IV MMI itu. Getaran IV MMI ini dirasakan banyak orang dan bersifat merusak.

“Gempa bumi ini berdasarkan analisis dan laporan masyarakat dirasakan di wilayah Poso, Buol, Morowali, Banggai, dan Palu dengan intensitas guncangan IV MMI. Artinya dirasakan oleh orang banyak dalam rumah dan di luar juga dirasakan oleh beberapa orang, bahkan gerabah bisa pecah, jendela pintu berderik dan dinding berbunyi,” ungkapnya.

Selain itu, gempa intensitas lebih rendah dirasakan di Kolaka Utara dan Tolitoli. Kemudian, ia mengatakan, sisanya merasakan gempa di intensitas II MMI hingga III MMI.

“Skala III MMI lebih kecil, getaran di dalam rumah, seakan-akan ada getaran kendaraan berat yang lewat, itu yang dirasakan di Kolaka Utara dan Tolitoli, kemudian juga di Sumalata Kotamobagu, Palopo, Kolaka, Makassar, dan Kepulauan Konawe, dengan kekuatan intensitas III MMI,” ucap Dwikorita.

“Kemudian juga dirasakan di Gorontalo dan Kendari dengan intensitas II-III MMI, getaran dirasakan beberapa orang, benda ringan tergantung tampak bergoyang. Sekali lagi, intensitas II MMI ini dirasakan di Manado, Pinrang, dan Konawe,” sambungnya.

Sebelumnya, peringatan dini potensi tsunami itu dikeluarkan BMKG setelah gempa M 6,9 mengguncang Sulteng pukul 18.40 WIB, Jumat (12/4/2019). Sekitar pukul 19,47 WIB, peringatan dini tersebut dinyatakan berakhir.

Gempa juga dirasakan di berbagai daerah di Sulteng hingga Sulsel.

(*)