Uya Kuya Gantikan Yudi Latif Hanya Satire

HOAX-UYA-KUYAHoax

MASIH rendahnya budaya literasi sebagian masyarakat lantas dimanfaatkan sejumlah orang untuk menyebarkan tulisan-tulisan satire. Ujung-ujungnya, tulisan satire tersebut dipercaya sebagai kebenaran dan disebarkan lagi menjadi bahan hasutan.

Itu pula yang terjadi pada tulisan satire soal Presiden Joko Widodo yang mengumumkan pengangkatan artis Uya Kuya menggantikan Yudi Latif di Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Tidak sedikit netizen yang memercayai tulisan tersebut sebagai sebuah kebenaran. Contohnya, posting-an akun Facebook Heba El-Sisy.

Kemarin (11/6) akun itu mem-posting status di sebuah grup Facebook. Bunyinya, “Uya Kuya jadi anggota BPIP. Zazkia Gotik jadi Duta Pancasila. P3rtanyaannya KIT4 ADA DI NEG3RI APA? Negeri besar yg dipimpin oleh manusia2 dungu,” tulis Ibnu Ihya Ulumuddin di kolom komentar posting-an Heba El-Sisy.

Dari pencarian yang dilakukan Jawa Pos di media sosial, ada banyak posting-an netizen lainnya yang mengira pengangkatan Uya Kuya tersebut sebagai sebuah fakta. Padahal, kabar pengangkatan Uya Kuya menggantikan Yudi Latif di BPIP itu hanyalah bersumber dari tulisan satire. Awal mulanya ada di situs Geotimes. Di situs tersebut, memang ada menu atau rubrik satire. Di sana jelas tertulis “Satire, Bukan Berita”.

Tulisan satire tentang pengangkatan Uya Kuya menggantikan Yudi Latif itu dibuat Arlian Buana. Dia juga yang menulis kabar satire tentang Pangeran Arab Saudi Tak Sudi Temui Amien Rais, Prabowo, dan Rizieq Shihab.

Dalam tulisannya, Arlian menuliskan bahwa Presiden Joko Widodo tidak perlu menunggu lama mencari pengganti Yudi Latif yang mengundurkan diri dari BPIP. Pengangkatan Uya Kuya itu diumumkan mendadak dalam jumpa pers saat sahur pada Minggu pagi (10/6).

Dalam tulisan tersebut, Jokowi disebut menolak semua rekomendasi pengganti Yudi Latif. Dia memilih sendiri Uya Kuya. “Pak Uya Kuya ini kan sudah sangat berpengalaman, serta terbukti jaminan mutu berhasil menyelesaikan persoalan banyak orang dan menyadarkan banyak orang. Dengan pengalaman menyadarkan banyak orang itu, saya minta Pak Uya mempancasilakan banyak orang,” kata Jokowi sebagaimana yang ditulis Ardian di Geotimes.

Kalau kabar itu hanya muncul di Geotimes, mungkin orang mudah mengetahuinya sebagai kabar satire. Sebab, jelas tertulis satire. Tetapi, ternyata sejumlah situs ikut mengutip kabar tersebut dan melabelinya sebagai berita. Misalnya, situs indonesiakita.co. Di sana tulisan yang sama dimasukkan dalam rubrik headline news.

Jadi, sekali lagi, kabar itu hanya satire. Hanya dibuat lucu-lucuan. Jangan diseriusi. Apalagi dibuat bahan untuk menghasut pihak tertentu. Kalau percaya berita tersebut, lalu ikutan menyebar untuk menghasut, tampaknya Anda kurang piknik. (gun/c14/fat)

FAKTA:

Pengangkatan Uya Kuya menjadi pengganti Yudi Latif di BPIP berasal dari kabar satire.