Waduk Darma Surut 4 Juta Kubik

waduk-darma-surut
SURUT: Petugas operasi dan pemeliharaan (OP) Waduk Darma Ahmad Musubun Zamanudin memantau kondisi air Waduk Darma yang semakin surut. Foto: M Taufik/Radar Kuningan

KUNINGAN – Musim kemarau sekarang menyebabkan volume air Waduk Darma surut hingga 4 juta meter kubik dari debit maksimal 36 juta meter kubik kini tersisa sekitar 32 juta kubik.

Petugas operasi dan pemeliharaan (OP) Waduk Darma Ahmad Mansubun Zamanudin mengungkapkan, penyusutan debit air Waduk Darma mulai terjadi sejak pintu air irigasi dibuka awal Mei lalu. Secara bertahap, debit air dikeluarkan sesuai kebutuhan untuk pengairan areal pertanian di wilayah Timur Kuningan dan sebagian wilayah Selatan Kabupaten Cirebon yang totalnya mencapai 19.000 hektare.

“Saat ini debit air yang dikeluarkan 2,5 meter kubik per detik. Dijadwalkan pengeluaran air Waduk Darma ini akan berlangsung hingga bulan Oktober mendatang yang diprediksi sudah masuk musin hujan,” ungkap Ahmad kepada Radar, kemarin.

Penyusutan debit air Waduk Darma juga terlihat dari garis air permukaan yang membekas pada dinding waduk yang semakin turun setiap harinya. Meski demikian, kata Ahmad, kondisi tersebut terpaksa dikesampingkan demi kepentingan masyarakat luas.

“Karena fungsi utama Waduk Darma adalah sebagai penyimpan cadangan air yang baru akan difungsikan pada musim kemarau seperti sekarang untuk mengairi areal pertanian yang kering di wilayah timur Kuningan dan sekitarnya. Mengenai dampaknya pada keindahan wisata Waduk Darma, harap dimaklum demi kepentingan bersama,” ungkap Ahmad.

Namun untuk antisipasi kekeringan total, kata Ahmad, telah ada ketetapan batas terendah atau dead storage debit air Waduk Darma hingga 7,8 juta kubik. Pada saat debit air telah mencapai angka tersebut, maka penyaluran air untuk irigasi atau apa pun harus dihentikan untuk menjaga ketersediaan air di waduk.

“Selain itu pada Bulan Oktober debit air Waduk Darma sudah mendekati dead storage sehingga dijadwalkan pintu air akan ditutup. Selain untuk cadangan dan menjaga konstruksi bendungan, masa pengeringan juga dimanfaatkan untuk perawatan dan perbaikan saluran irigasi dari kebocoran atau kerusakan untuk menghadapi musim penghujan,” ungkap Ahmad.

Keberadaan Waduk Darma yang tidak mempunyai mata air dan hanya mengandalkan pasokan air dari Sungai Cinangka dan Darma Loka, kata Ahmad, membuat penyusutan air waduk tidak dapat dicegah. Meski hingga saat ini pasokan air dari sungai tersebut masih mengalir, namun kapasitasnya mulai berkurang sedangkan pengeluaran untuk irigasi dan rembesan yang lebih besar praktis menyebabkan volume air Waduk Darma terus menyusut.

“Apalagi jika musim kemarau berlangsung lebih panjang, biasanya Sungai Cinangka pun akan kering sehingga tidak ada pasokan air ke Waduk Darma. Akibatnya volume air terus menyusut, dan seperti pengalaman kemarau tahun-tahun sebelumnya yang menyebabkan bermunculan daratan seperti pulau di tengah waduk,” ujar Ahmad. (fik)