Wallace Smith Broecker, Ilmuwan Dibalik Istilah Global Warming Meninggal Dunia

Wallace Smith Broecker (Foto. Reuters)

Wallace Smith Broecker, ilmuwan yang mengingatkan bahaya perubahan iklim dan mempopulerkan istilah global warming meninggal.

Dikutip radarcirebon.com dari Wallace Broecker, scientist who made term ‘global warming’ popular, has died at 87 Profesor dan peneliti Columbia University tersebut meninggal di usia 87 tahun pada Senin (19/2), di New York Hospital. Sesuai keterangan dari juru bicara Lamont-Doherty Earth Observatory University, Kevin Krajick, Broecker telah menderita sakit dalam beberapa bulan belakangan.

Broecker membawa istilah “Global Warming” menjadi umum, melalui sebuah artikelnya pada 1975 yang secara benar memprediksi kenaikan level karbon dioksida di atmosfer. Ia kemudian menjadi orang pertama yang menyebut “Ocean Conveyor Belt“, sebuah jaringan global yang mempengaruhi dari suhu udara hingga pola curah hujan.

“Wally (panggilan akrab Wallace) orang yang unik, brilian, dan agresif,” ucap Profesor Michael Oppenheimer dari Pricenton University. “Dia tidak tertipu dengan pendinginan di tahun 1970, ia melihat pemanasan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan memperjelas pandanganya, bahkan ketika hanya sedikit yang mau mendengarkan,” imbuh Michael seperti dikutip dari USA Today, pada Selasa (19/2).

Pada 1984, Broecker mengatakan kepada Parlemen Amerika Serikat penumpukan gas rumah kaca membutuhkan upaya nasional baru dan berani, yang bertujuan memahami operasi dari keadaan atmosfer, lautan, es, dan kehidupan biosfer di tanah.

“Kita hidup dalam sistem iklim yang dapat melompat tiba-tibadri satu keadaan ke keadaan lainya,” kata Broecker kepada Associated Press di tahun 1997.

Broecker juga berpesan dengan pembuangan sejumlah besar gas rumah kaca ke atmosfer, seperti karbon dioksida dari penggunaan bahan bakar fosil akan menyebabkan efek yang menghancurkan.

Ia juga menerima Medali Nasional tentang sains pada 1996, dan anggota dari Akademi Sains Nasional. Ia juga menjabat sebagai koordinator penelitian untuk Biosphere 2, lingkungan hidup eksperemintal yang berubah menjadi laboratorium penelitian.

Broecker lahir di Chicago, dan tumbuh besar di kawasan sub-urban Oak Park. Pada tahun 1959, ia bergabung dengan Columbia University, dan banyak menghabiskan waktu di laboratorium milik universitas di Palisades, New York. Dia dikenal di lingkaran penelitinya sebagai “Kakek Perubahan Iklim” dan “Dekan para Ilmuwan Iklim”.

“Penemuanya fundamental dalam mengintrepetasikan sejarah iklim bumi,” kata Oppenheimer. “Tidak ada ilmuwan yang lebih merangsang untuk terlibat, ia adalah penghasut dengan cara yang baik, bersedia untuk menekan ide-ide yang tidak populer. Percakapanya selalu dua arah, tidak pernah membosankan, selalu mendidik. Aku akan merindukanya,” tutup Oppenheimer. (*)