Waspada, Cuci Otak ala Teroris

Ilustrasi (NET)

FAKTA jejaring teroris masih sangat subur dan berkembang di Indonesia. Penyebabnya adalah para penebar ideologi radikal masih berkeliaran. Peran para penebar ideologi radikal sangat berpengaruh dalam aksi ‘jihadis’. Mereka hanya butuh hitungan menit menyusupkan pemikirannya hingga simpatisan terhadap aksi jihad mau mengorbankan diri.

Perekrut ‘pengantin’ kelompok Jamaah Anshorut Daulah (JAD), Abu Mukafi, mengaku tidak butuh waktu lama dalam proses indoktrinasi, sebelum melakukan serangan. Namun hal itu hanya manjur untuk orang-orang yang telah menjadi kader gerakan teror.

“Kalau dia sudah jadi, sudah paham, mungkin 15 menit sampai 25 menit kita beri tahrib, jadi,” kata Abu Mukafi.

Hal serupa juga dilakukan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) merekrut anggotanya dari berbagai belahan dunia, salah satunya Indonesia. Banyak yang tergiur dengan ajakan ISIS, khususnya anak-anak muda.

ISIS merekrut anggota dengan berbagai cara. Tawaran mereka menggiurkan, padahal sebenarnya menjerumuskan. Berikut ini ulasan mengenai cara ISIS rekrut para WNI.

Modus Menggiurkan

Banyak WNI yang terjebak dengan modus ISIS. Banyak cara yang tak diduga-duga digunakan oleh kelompok teroris tersebut untuk merekrut anggota baru. Modusnya antara lain menjanjikan upah tinggi, hidup enak, hubungan asmara, menyebarkan video propaganda, dan menawarkan umrah gratis.

Tak hanya pria, wanita juga menjadi korban modus ISIS. Wartawati Prancis yang pernah menyamar menjadi wanita muda dan bergabung di situs milik ISIS, mengaku dipacari oleh komandan ISIS dan mengajaknya bergabung ke Suriah. Hal ini terjadi pada hampir semua perempuan muda yang kontak dengan kelompok radikal itu.

Para pria ISIS mengiming-imingi remaja putri dengan perlakukan bak putri jika mereka bergabung dengan ISIS. Sedangkan para remaja lelaki dipropaganda teknologi canggih terkini.

Cuci Otak Melalui Video

Melalui video, ISIS mencuci otak sasarannya di seluruh dunia dengan video-video berkualitas tinggi dan canggih sekelas Hollywood. Salah satu video yang pernah beredar berjudul ‘Cahaya Tarbiyah di Bumi Khilafah’.

Video Cahaya Tarbiyah di Bumi Khilafah ini memperlihatkan anak-anak usia di bawah 15 tahun yang diduga dari Indonesia tengah belajar perang.

Media Sosial

Media sosial banyak digunakan oleh kaum muda dan tua. Dengan media sosial, ISIS bisa dengan mudah merekrut anggotanya.

“ISIS misalnya kita lihat mereka lihai menggunakan Cyber Space untuk sebarkan aksi teror mereka, melakukan rekrutmen anggota dan mereka bisa menghasut ribuan orang,” kata Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komisaris Jenderal Polisi Suhardi Alius.

Suhardi menambahkan kelompok teroris juga memanfaatkan media sosial untuk menentukan lokasi serangan, menghimpun dana operasional, serta pengkaderan radikalisme.

Sel-sel teroris melakukan aksi brainwashing melalui media sosial. Aksi tersebut bisa menghasilkan pelaku teror bom bunuh diri secara mandiri atau dikenal sebagai lone wolf.

Uraian tersebut disampaikan oleh Kepala Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) Komisaris Jenderal Suhardi Alius, di Semarang.

Ia mengingatkan di era teknologi ini, pencucian otak bisa dilakukan melalui media sosial. Pesan ideologi terorisme disampaikan secara daring. Pesan-pesan tersebut bisa memengaruhi pemikiran orang untuk melakukan hal yang destruktif.

Suhardi meminta masyarakat waspada dengan akun-akun yang bisa diduga melakukan perekrutan anggota terorisme. Masyarakat juga diminta melaporkan kepada polisi bila menemukan konten-konten yang menyebarkan paham terorisme di media sosial.

Kepala BNPT menyebutkan aksi yang dilakukan pembom bunuh diri di Surabaya beberapa waktu lalu sebagai contoh, dampak pencucian otak melalui media sosial.

Aksi cuci otak oleh jaringan teroris melalui media sosial, sesungguhnya bukan hal yang baru. Coba cermati Media Inggris The Sun. Media ini melaporkan bagaimana kuatnya pengaruh indoktrinasi dan pencucian otak yang dilakukan ISIS.

Seorang model Inggris Kimberley Miner (29) menceritakan pengalamannya, bagaimana doktrin ideologi terorisme bisa mengubah dirinya dari gadis model yang glamor, suka berpose bugil, sampai menjadi seorang jihadis.

Gadis asli London, itu mengaku jika dia dipersiapkan dan diindoktrinasi secara daring oleh perekrut ISIS Naweed Hussain. Hussain sendiri akhirnya tewas dalam serangan udara yang menghancurkan ISIS di Suriah.

Dia mengatakan, Hussain ingin menjadikan dirinya sebagai ‘Janda Putih’ berikutnya dan mengikuti jejak Sally Jones, seorang ibu asal Inggris yang rela mengorbankan hidupnya sebagai jihadis ISIS.

Awalnya Miner mengaku kesepian setelah mengalami keguguran dan putus dengan tunangannya. Dia pun menyadari bahwa dirinya tidak menggunakan media sosial dengan benar, sampai dia menjadi lajang dan kesepian, yang menyambut uluran tangan Hussain sebagai teman di jejaring Facebook.

Hussain digambarkan kerap menyanjungnya dan meningkatkan kepercayaan dirinya. Bahkan akhirnya, bisa meyakinkan Miner untuk mengubah namanya menjadi Aisha Lauren al-Britaniya.

Selanjutnya Miners dalam waktu singkat sudah menjadi endorser ISIS. Ia menyebarkan aneka konten provokatif ISIS, sampai video aksi-aksi pemboman.

Bila dicermati, proses rekrutmen sampai indoktrinasi secara daring oleh pasukan siber teroris ISIS terhadap para korban, memiliki pola yang berulang. Misalnya, korban atau sasaran adalah orang yang tengah mempunyai masalah. Lalu pelaku melakukan pendekatan, bersimpati, dan memberikan jalan keluar.

Selanjutnya pelaku memberikan aneka janji kebahagiaan, dari kehidupan duniawi sampai kehidupan di surga. Berikutnya pelaku akan melakukan isolasi terhadap korbannya. Di situlah pelaku meningkatkan kepercayaan diri korban, serta mengubah sikap dan perilaku korban.

Celakanya proses tersebut berjalan dalam waktu yang relatif singkat, dan algoritme media sosial mendukung proses tersebut. Echo chamber effect begitu sebutannya. Efek ruang gema ini membuat korban seperti katak dalam tempurung. Korban dengan gampang diubah sikap dan perilakunya, karena “lingkungan” yang mendukung.

Fenomena ruang gema ini menggambarkan pengguna media sosial yang berada di lingkungan pertemanan yang berpikiran serupa. Pendapat, pemikiran, dan komentar yang dilontarkan di ruang itu segera mendapat dukungan dari rekannya dan terus berulang gaungnya. Akibatnya orang yang berada di ruang gema tersebut meyakini pesan yang ada ruang itu adalah sebuah fakta dan kebenaran mutlak.

Tentu saja ruang gema ini bisa menjadi sangat berbahaya. Sebab bisa jadi pesan yang dipercayai menjadi kebenaran mutlak tersebut, bila diuji secara objektif, sesungguhnya adalah sebuah kesalahan atau kebalikan dari fakta.

Nah, cukup efektifkah BNPT melakukan pencegahan penyebaran ideologi terorisme hanya dengan imbauan dan ajakan untuk melaporkan bila masyarakat menemukan konten terorisme di media sosial?

Bisa dipastikan tidak. Sebab bisa jadi banyak pengguna media sosial yang belum paham memilah konten yang berbau ideologi terorisme dengan konten yang hanya penyejuk jiwa. Pun masih banyak yang tak paham dengan cara kerja media sosial yang diikutinya.

Suka tidak suka, saat ini media sosial sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Sebuah kenyataan pula bahwa pengembangan fitur media sosial, jauh mendahului kepintaran penggunanya, apalagi regulasi pemerintah yang mengatur tentang konten.

BNPT harus melakukan kerja sama dengan berbagai pihak untuk melakukan literasi digital, termasuk menekankan tanggung jawab perusahaan pengelola media sosial itu untuk turut bertanggung jawab membersihkan platform-nya dari konten berbau propaganda kekerasan.

Dengan begitu masyarakat akan paham dan lebih bijak dalam menggunakan media sosial, khususnya menyangkut ideologi terorisme. Itu semua, sungguh, bukan pekerjaan yang mudah. (*)