Waspada Satwa Liar Turun ke Permukiman Akibat Kebakaran Hutan Gunung Ciremai

cek-kebakarn-hutan
PANTAU LOKASI: Kapolres Majalengka AKBP Mariyono (ketiga dari kiri) melihat lokasi kebakaran hitan Gunung Ciremai di Posko Penanggulangan Bencana Buper Cidewata, Desa Payung, Kecamatan Rajagaluh, Selasa (13/8). FOTO: ANWAR BAEHAQI/RADAR MAJALENGKA

MAJALENGKA – Meski kondisi kebakaran hutan di Gunung Ciremai berangsur padam, namun kondisi tersebut menurut Kepolisian Resor (Polres) Majalengka belum sepenuhnya aman. Saat ini masih ada yang harus menjadi perhatian semua pihak.

Bahkan saat ini Polres Majalengka terus melakukan koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan instansi lainnya untuk memerhatikan akan keanekaragaman hayati di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC). Keanekaragaman terancam dengan terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Tidak hanya beragam tumbuhan, berbagai jenis satwa dikhawatirkan turut terdampak dengan peristiwa tersebut. Tim gabungan pemadam Karhutla di Gunung Ciremai memang belum menemukan langsung ada satwa yang mati. Namun, rusaknya habitat satwa berpeluang menimbulkan ancaman, yaitu potensi satwa turun ke permukiman.

Kapolres Majalengka, AKBP Mariyono mengatakan, kebakaran di lahan dan hutan konservasi berpeluang menyebabkan satwa pindah ke kawasan hutan produksi yang masih aman dari api. Atau paling ekstrem satwa malah turun ke permukiman penduduk.

“Oleh karena itu, warga masyarakat diimbau untuk mewaspadai adanya satwa liar yang turun ke permukiman,” imbau kapolres, pada saat peninjauan Karhutla Gunung Ciremai, di Posko Penanggulangan Bencana di Buper Cidewata, Desa Payung, Kecamatan Rajagaluh, Selasa (13/8).

Kapolres menambahkan bahwa akan terus berkoordinasi dengan BPBD dan BNPB maupun unsur terkait lainnya untuk pengawasan dan pengamanan di wilayah terbawah area kebakaran. Hal ini agar efek negatif susulan dari dampak kebakaran Gunung Ciremai bisa diminimalisir sedini mungkin.

“Memang belum ada indikasi ancaman ke arah itu. Tapi semua potensi ancaman harus diperhitungkan,” tandasnya.

Mariyono juga mengatakan, karhatlu di Gunung Ciremai hingga hari ketujuh sudah mencapai 398 hektare lahan yang terbakar. “Alhamdulilah situasi di atas, berdasarkan laporan dari masyarakat pencinta api, bahwa titik api sudah padam. Namun, tetap kita terus melakukan pemantauan hingga benar-benar api tersebut padam,” ungkapnya.

Menurut Mariyono, saat ini heli tidak bisa lagi melakukan pemadaman, karena adanya angin dan asap maupun kabut. Sehingga waterboombing tidak bisa dilanjutkan.

“Ada sekitar 160 personel Polres Majalengka dan ditambah dari TNI 1 SSK serta BPBD maupun masyarakat pencinta api yang telah disiapkan di lokasi kebakaran karhutla,” ujarnya.

Maryono menambahkan bahwa untuk langkah ke depannya, Polres Majalengka akan terus berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait. Seperti BPBD dan BNPB serta unsur terkait lainnya untuk melakukan penanggulangan segera agar bencana asap ini secepatnya selesai.

“Kami juga mengimbau kepada warga masyarakat, dengan adanya kebakaran hutan ini agar mewaspadai adanya satwa yang turun ke permukiman,” pungkasnya. (bae)

[adrotate banner="13"]

Berita Terkait