Wow! Wisata Mangrove Caplok Barong Ambulu Kini Ada Perahu Karet dan Jetsky

Selain dilengkapi dengan track sepanjang 300 meter, ekowisata Mangrove Caplok Barong di Desa Ambulu, juga dilengkapi dengan perahu karet, jetsky dan perahu wisata. FOTO:ANDRI WIGUNA/RADAR CIREBON

CIREBON-Kawasan wisata Mangrove Caplok Barong di Desa Ambulu, Kecamatan Losari, berhasil menjadi trigger untuk mendorong pertumbuhan ekonomi warga sekitar. Kini, tidak hanya lokasi wisata mangrovenya saja yang ramai didatangi pengunjung. Warga sekitar pun perlahan meraih untung.

Sejak pertama kali dibuka jelang Ramadan kemarin, saat ini, jika ditotal, mungkin sudah puluhan ribu pengunjung yang datang melihat langsung ekowisata Mangrove Caplok Barong. Dengan panjang track sekitar 300 meter, kawasan Mangrove Desa Amblu menjadi salah satu alternatif wisata warga dari wilayah perbatasan Jabar–Jateng dan sebagain warga dari timur Cirebon.

“Grafiknya terus naik. Jumlah pengunjung terus bertambah. Bahkan di momen libur lebaran, pendapatan per hari dari tiket saja sampai Rp5 juta. Kalau saat hari normal paling antara Rp700 ribu per hari. Saat liburan bisa sampai 1.300 orang per hari,” ujar Adit, Humas Kawasan Mangrove Caplok Barong Desa Ambulu.

Menurutnya, semakin banyaknya pengunjung, membuat pihak pengelola harus meningkatkan fasilitas, wahana dan sarana pendukung lainnya agar kepuasan pengunjung bisa terjamin. “Saat ini sudah banyak wahana yang kita tambah. Tentunya tidak semuanya di handle oleh pengelola. Kita lakukan pemberdayaan dengan melibatkan masyarakat sekitar. Ada wisata perahu, perahu karet sampai dengan jetsky. Wahana pendukung ini murni dengen melibatkan warga sekitar sebagai upaya pemberdayaan,” imbuhnya.

Wahana pendukung tersebut bisa diakses oleh pengunjung dengan membayar langsung kepada pemiliknya di tempat, dengan harga Rp10 ribu untuk sekali jalan. Saat ini, menurutnya, pengelolah tengah fokus melakukan pengembangan kawasan Mangrove Caplok Barong dengan menggandeng masyarakat dan pemilik tambak agar menanam mangrove. Selain itu, aspek pemberdayaan pun jadi fokus agar keberadaan kawasan mangrove tersebut bisa menajdi berkah untuk seluruh masyarakat Desa Ambulu.

“Tentu, hasil makronya kan belum bisa dilihat sekarang. Tapi potensinya sudah terlihat. Beberapa tahun ke depan, harapan kita, Desa Ambulu bisa menjadi desa wisata percontohan dan mampu mengangkat serta  memberikan kesejahteraan untuk warga sekitar,” bebernya.

Sementara itu, Kuwu Desa Ambulu Sunaji meminta agar pemerintah kabupaten ataupun pemerintah provinsi bisa membantu secara maksimal kawasan tersebut agar bisa bersaing dengan Karangsong Indramayu ataupun Pandansari Brebes.

“Desa sudah memberikan penyertaan modal untuk pembangunan kawasan. Nilainya sekitar Rp100 jutaan. Mudah-mudahan ada suport lebih lanjut dari pemkab atau pemprov, terutama untuk memperbaiki akses jalan dan beberapa sarana pendukung lainnya,” ungkapnya. (dri)